Kumpulan Terjemahan

PUISI, CERITERA, DAN ARTIKEL BERBAHASA TIONGHUA

Aris Tanone

   
   

   
   

 

   
   
 
 
   
 

Catatan Akhir Xiao Ao Jiang Hu

Hina Kelana

Oleh: Jin Yong. 

   
 
   
   
   
   

 

Cerdik cendekia dan ksatria perkasa pada umumnya adalah orang yang aktif berupaya untuk maju.

 

Dari tolok ukur moral mereka terbagi atas dua kategori. Bila tujuan segala upaya mereka demi kesejahteraan banyak orang mereka dianggap orang baik. Sedangkan yang hanya mengutamakan kekuasaan, nama, kedudukan, kepuasan material dan merugikan orang lain dianggap orang jahat. Orang baik atau orang jahat masih ada lagi kalibernya. Ini ditentukan dari derajat kebajikan dan kerugian serta jumlah orang yang menikmati atau menderita akibat tindakan mereka.

 

Di bidang politik, lebih banyak waktu di mana orang jahat yang berkuasa sehingga selalu ada saja orang yang berupaya ingin menggantikannya; ada lagi yang ingin melakukan reformasi; adalagi orang yang tidak menaruh harapan pada reformasi dan tidak ingin ikut bergabung untuk ikut rusak bersama penguasa. Tujuan mereka adalah keluar dari pusaran pertarungan dan melakukan kebajikan. Makanya selalu saja ada pihak penguasa, pihak pemberontak, pihak reformasi dan para resi (pertapa).

 

Pandangan tradisional Tiongkok menganjurkan orang untuk “berprestasi dalam sekolah kemudian berbakti dalam pemerintahan”, mengikuti Kongzi (Confusius) yang “sudah tahu mustahil tetapi tetap berusaha untuk menyelesaikan”. Tetapi mereka juga punya penilaian tinggi terhadap para resi, menganggap mereka bersih dan terhormat. Para resi tidak mempunyai kontribusi aktif pada masyarakat, namun tindakan mereka tentu berbeda dengan para perampas kekuasaan dan memberikan suatu teladan yang lain. Orang Tionghoa juga mempunyai tuntutan yang lebih lunak dalam bidang moral. Sejauh tidak merugikan orang lain itu sudah dianggap orang baik.

 

Dalam Lunyu (The Analects of Confusius) tercatat berbagai pertapa, Chenmen[1], si gila dari negeri Chu - Jieyu, Changju, Jieniao[2], Paktua pembawa galah[3], Boyi, Shuji[4], Yuzhong[5], Yiyi, Zhuzhang, Liu Xiahui, Shaolien dan sebagainya. Kongzi sangat menghormati mereka walaupun tidak menyetujui tingkah laku mereka.

 

Confusius membagi pertapa atas 3 jenis: Boyi, Shuji termasuk mereka yang tidak membuang idealisme, mengorbankan harga diri; seperti Liu Xiahui, Shaolien, idealisme dan harga diri bisa dikorbankan, tetapi omongan dan tindakan mereka mengikuti aturan; seperti Yuzhong, Yiyi, asingkan diri meninggalkan urusan duniawi, bicara tanpa tedeng aling, tidak melakukan tindakan salah, tidak ikut berpolitik.

 

Penilaian Confusius terhadap mereka baik sekali dan jelas menunjukkan bahwa pertapa pun ada sisi positive. Kalau ikut dalam percaturan politik, ambisi dan harga diri tidak bisa tidak ada ruginya, tetapi itu tidak bisa dihindari. Liu Xiahui jadi hakim, pernah dipecat tiga kali. Ada yang menganjurkan agar dia pindah keluar negeri.  Liu Xiahui ngotot untuk tetap mempertahankan keadilan dan bilang: “Kemana aku harus pergi biar bisa mengabdi menurut aturan dan tidak dipecat tiga kali? Kalau mengabdinya tidak dengan benar, kenapa harus kutinggalkan negeri leluhurku? (Analects).

 

Kuncinya adalah pengadian. Kalau bekerja demi kesejahteraan umum, tidak bisa tidak harus mengabdi; mengikuti prinsip dan berbakti buat umum, tidak mengacu kepada jasa nama dan harta, walaupun terpaksa harus tunduk pada perintah atasan pun, bisa dianggap sebagai pertapa. Tetapi pertapa secara umum, tuntutan dasarnya adalah mencari kebebasan pribadi dan tidak peduli menyenangkan orang lain.

 

Tujuan saya menulis cersil adalah menulis tentang sifat manusia, seperti kebanyakan novel umumnya. Novel ini lewat berbagai tokoh yang ada bertujuan untuk melukiskan berberapa gejala umum dalam kehidupan politik di Tiongkok selama 3000 tahun. Penokohan dengan tokoh yang ada kedalam novel tidak berarti banyak, karena situasi politik bisa berubah dengan cepat, tetapi kalau menggambarkan sifat manusia, maka akan ada artinya dalam jangka panjang.Perebutan kekuasaan tanpa memperdulikan sesuatu, adalah fenomena dasar kehidupan politik di dalam maupun di luar negeri sejak dahulu sampai sekarang. Selama beribu tahun lalu ya begini, sekian ribu tahun dari sekarang mungkin masih akan begini.

 

Dalam gambaran saya, tokoh-tokoh Ren Wuoxing[6], Dongfang Bubai, Yue Buqun, Zuo Lengshan bukanlah tokoh rimba persilatan melainkan tokoh politik. Lin Pingzhi, Xiang Wentian, Fancheng Dashi, Zhonglu Daoren, Dingxian Shidai, Moda Xiansheng, Yu Canghai dan sebagainya juga tokoh politik. Bermacam-macam tokoh ini, selalu ada dalam setiap dinasti, barangkali di negara lain pun juga ada.

 

Slogan “Panjang umur kekal abadi, mempersatukan dunia persilatan”( 千秋萬載,一統江湖), sudah saya tulis dalam buku ini di tahun 60-an. Ren Wuoxing gara-gara memegang kuasa lalu menjadi jelek juga gejala umum sifat manusia. Semua ini bukanlah tambahan atau revisi setelah buku ini jadi.

 

Sewaktu Xiaoao Jianghu diterbitkan sebagai cerbung di Mingbao, ada 21 koran berbahasa Tionghoa, Vietnam dan Prancis di Saigon yang juga menerbitkannya secara serentak. Waktu ada perdebatan dalam parlemen Vietnam Selatan waktu itu, kadang ada anggota parlemen yang menuduh lawannya sebagai Yue Buqun (gentleman palsu) atau Zuo Lengshan (berniat membangun hegemony). Mungkin karena pergolakan situasi politik di Vietsel waktu itu, setiap orang merasa tertarik akan percaturan politik.

 

Linghu Chong adalah seorang ‘resi’ alamiah dan tidak tertarik pada kekuasaan. Yingying[7] juga seorang ‘resi’. Dia memiliki kekuasaan besar yang menentukan mati hidupnya para tokoh kangouw, malah lebih betah bersembunyi di sebuah gang semrawut di kota Luoyang, melewatkan waktu menikmati seruling menabuh kim. Dalam jiwanya dia hanya mementingkan kebebasan pribiadi, kepuasan diri sendiri. Yang paling penting hanyalah cinta.

 

Anak dara ini sangat pemalu dan berkulit tipis, tetapi di dalam cinta dia sangat aktif. Ketika rasa cintanya mengarah pada Yue Linshang, Linghu Chong malah dibuat tidak berkutik. Hanya waktu sampai di jalan raya di luar padang hijau, sewaktu dia bersama Yingying berada di dalam kereta, barulah cinta butanya kepada Yue Lingshan akhirnya punah, dan kekangan  jiwanya pun akhirnya terbebaskan.

 

Di akhir buku ini, Yingying menyorong tangan memegang pergelangan tangannya Linghu Chong dan mengeluh:”Tak dinyana tangannya Ren Yingying akhirnya juga terbogol dengan seekor monyet besar yang tak bisa dipisahkan lagi.” Cintanya Yingying akhirnya terpenuhi, dan keinginan hatinya pun akhirnya terpenuhi, namun kebebasan Linghu Chong malah jadinya terborgol. Atau mungkin hanya dalam cinta sepihaknya Yilin, kunkungan pada sifat Linghu Chong baru mengurang?

 

Hidup manusia di dunia, yang berisi kebebasan mutlak pada dasarnya tidak mungkin tercapai. Terbebas dari segala godaan dan mendapatkan pencerahan, bukanlah sesuatu yang dapat dicapai oleh setiap orang. Mereka yang terpukau dengan kekuasaan, banyak terdorong oleh niat untuk menggenggam kekuasaan, tidak lagi bisa mengontrol diri sendiri terus pergi mengerjakan berbagai macam hal yang sangat bertolak belakang dengan hati nurani. Sesungguhnya kasihan sekali. Dalam tradisi seni Tiongkok, baik dalam puisi, essay, sandiwara, lukisan, mencari kebebasan diri dari dulu merupakan tema utama. Semakin bergolak zamannya, kehidupan rakyat semakin menderita, tema ini menjadi makin menonjol.

 

“Manusia dalam sungai telaga, raga bukan diatur sendiri.”[8] Pepatah ini maksudnya, dalam hidup bermasyarakat, ada banyak hal yang terpaksa hanya bisa diterima saja karena itu diluar kemampuan seseorang untuk mengaturnya. Mau mengundurkan diri dari masyarakat atau dunia sungai telaga bukanlah hal yang mudah. Liu Zhengfeng ingin menikmati kebebasan dalam bidang seni, menjunjung tinggi persahabatan yang mengena di hati, ingin mencuci tangan di bokor emas; Empat kawan Meizhuang (Meizhuang siyou) mengharapkan bisa menyembunyikan nama bertapa di gunung Gu[9], menikmati kegemaran mereka dalam bidang kim, catur, seni menulis dan melukis; semua ini tidak bisa tercapai dan mereka akhirnya menjadi korban, sebab perebutan kekuasaan tidak mengizinkan. Lain halnya seperti pendekar besar Guojing (Kwee Tjeng) yang mengorbankan diri menempuh berbagai kesukaraan, sudah tahu mustahil pun masih tetap dilaksanakan. Dari segi moral malah lebih ada kepastian penerimaannya.

 

Linghu Chong bukanlah pendekar besar, tetapi seorang resi seperti Taoqian[10] yang mengejar kebebasan dan terbebas dari kungkungan. Feng Qingyang adalah orang yang  putus asa, menyesal malu dan pergi bertapa. Linghu Chong memang dilahirkan untuk tidak menerima kekangan. Di atas Hemu Ya (bukit kayu hitam), tak perduli apakah Yang Lianding atau Ren Woxing yang berkuasa, asal saja ada yang tertawa pun bisa menyebabkan bahaya terbunuh, apalagi sikap sombong. Kebabasan dunia kangouw yang tak terikat dengan segala aturan yang ada atau Xiaoao Jianghu adalah tujuan yang dikejar oleh orang seperti Linghu Chong ini.

 

Karena yang ingin ditulis adalah sifat umum dan gejala yang sering terungkap dalam kehidupan, maka dalam buku ini tidak dimasukkan latar belakang sejarah. Ini berarti, situasi seperti yang diceriterakan mungkin saja terjadi dalam dinasti manapun.

 

Jin Yong, Mei 1980.

Alih bahasa: Aris Tanone, Januari 2004.


[1] Nama-nama ini kebanyakan bukan nama sebenarnya. Chenmen misalnya adalah penjaga pintu kota, Jieyu berarti mendekati kereta. Nama-nama itu digunakan saat murid-murid Confusius menyusun Analects. Ada beberapa yang tidak bisa ditelusuri lagi nama asli seperti catatan 2-5.

[2] Ada yang menganggap Changju (長沮) dan Jieniao (桀溺) sekedar julukan berarti si tinggi dan si kekar dari sungai dan bukan nama asli.

[3] Di berbagai situs Internet, hanya ditulis yang berarti荷丈人(He Zhangren) atau pak tua He, tetapi dibukunya Jin Yong, Xiaoao Jianghu (3rd ed., 15th printing, Yuanliu Publ., Taipeh, Taiwan, 2002) yang saya baca, Jin Yong menulis 荷蓧丈人(Hodiao Zhangren). Rupanya huruf diao ini adalah huruf langka dalam versi elektronik.Hodiao Zhangren artinya pak tua yang memikul sesuatu disebilah galah.

[4] Boyi (伯夷)dan Shuji(叔齊) adalah dua kakak beradik yang hidup di akhir zaman dinanti Yin  (sekitar 1000 SM) atau dikenal juga sebagai Shang period (1600 – 1066 SM).

[5] Yuzhong (虞仲), putra kedua raja Zhou Taiwang (周太王). Sedangkan Yiyi (夷逸) dan Zhuzhang (朱張)sejauh yang saya tahu tidak ada catatan resmi mengenai mereka. Sedangkan satu-satunya catatan mengenai Shaolien (少連) mengacu bahwa dia adalah orang dari Dongyi. Liuxia Hui (柳下惠) adalah orang bijak dari negeri Lu di zaman perang () yang bernama Zhanqin (展禽) alias Ziqin (字禽). Karena tinggal di kota Liuxia, dan terkenal karena welasasih () maka dipanggil Liuxia Hui atau si bijak dari Liuxia. Beberapa nama ini muncul dalam terjemahan Analect tanpa catatan kaki.

[6] Ren Wuoxing (任我行): Huruf Ren memang satu nama keluarga, tetapi salah satu arti kata ini adalah ‘biarkan’. Jin Yong memberi nama yang jenaka untuk tokoh ini, karena kalau dibaca artinya ‘biarkan aku jalankan’ yang mungkin bisa kita temukan padanannya dalam bahasa anak baru gede. Nama beberapa tokoh lain juga terasa lucu, misalnya Xiang Wentian atau Mengarah Tanya Langit.

[7] Yingying (盈盈): sederhana, jernih, bening.

[8] Berasal dari ungkapan: (人在江湖,身不由己).

[9]  孤山: Gushan, gunung di daerah Telaga Barat (Xihu) dekat Hangzhou yang terletak di antara Telaga luar dan telaga dalam.

[10] Taoqian (陶潛) atau Tao Yuanming 陶淵明) - 365-427 Masehi, adalah seorang pejabat yang akhirnya mengundurkan diri karena tidak puas dengan tindakan penguasa. Pengarang “Daohua Yuan Ji” atau “Catatan Taman Bunga Persik” yang melukiskan surga dunia tanpa penindasan dan pengurasan manusia atas manusia. Dia dianggap cikal bakal para resi penyair.

 

   
   
 
   
   

 

   
   
[Home]
   
 

© Aris Tanone - 2004

   
You are visitor: since May 15, 2004.