|
|
||||
Kumpulan TerjemahanPUISI, CERITERA, DAN ARTIKEL BERBAHASA TIONGHUAAris Tanone |
||||
|
|
||||
|
Ini juga hasil terjemahan yang pertama kali
disajikan di milis Tjersil. Catatan kaki adalah tambahan saya, dan
beberapa istilah saya dapatkan dari teman-teman di milis Tjersil (tjersil@yahoogroups.com).
Bila ada salah ketik atau ada terjemahan yang tidak tepat, tolong
informasikan ke kribo1 (at) yahoo.com.
Izin dari pengarang sedang diusahakan. Untuk melihat huruf Tionghoanya,
minimal anda harus punya font Arial Unicode MS.
Selamat membaca. |
||||
|
|
||||
Tokoh Sejarah dan Tokoh Cersil
Pidato
Jin Yong.
Catatan
dan hasil editing: Lu Meixing
Alih
Bahasa: Aris Tanone
Pembukaan:
Tahun
1994, saya pernah datang ke Taipeh untuk mengikuti suatu diskusi bersama
tuan Yang Zhao dan tuan Zhan Hongzhi [yang diselenggarakan bersama oleh penerbit
Renjian(
人间)
dan Yuan Liu (远流出版)].
Isi diskusi sangat padat, dan memberikan kesan terdalam dari
berbagai kota yang sudah saya kunjungi. Tingkatan pendengarnya sangat
tinggi, pertanyaannya cukup mengusik dan sangat dalam, membuat hati
sangat gembira bisa ketemu dengan teman-teman dari Taipeh.
Hari
ini melihat suasana di sini, rasanya seperti para yingxiong haohan (enghiong
hohan) dari berbagai aliran datang ke sini untuk menghadiri pesta wulin
(bulim). Sesungguhnya saya pribadi tidak senang pidato. Dulu waktu
mengurusi Mingbao
kalau ada pendapat ya saya tulis editorial. Tapi ini ada kekurangannya,
yaitu monolog
alias bicara
seorang diri, tidak ada yang mengusik. Yang diomongi rasanya sudah benar,
namun benar tidaknya sesungguhnya juga tidak tahu. Makanya saya tidak
suka pidato, tetapi suka berdialog.
Edisi
Fushihui (浮世绘-
) dari China Times (《中国时报》)
menyelenggarakan Jin
Yong Chaguan(
金庸茶馆
- alias Cafι Jin
Yong) (http://jinyong.ylib.com.tw/
), awal mulanya mau menamakannya Jin
Xue Yuanjiu
(Penelitian Jinology),
tetapi empat huruf Jinxue
Yuanqiu
ini terlalu tinggi. Pertama, novel saya tidak bisa dianggap suatu cabang
ilmu sehingga penggabungan kata Jin dan xue (Jinology) itu tidak
mungkinlah. Tapi kalau bilang Jin
Yong Chaguan
atau Jin Yong Tea House, para pembaca yang tertarik bisa duduk mengobrol,
saling kritik, memaki ataupun memuji, dan di hari pembukaan Jin
Yong Chaguanini,
kalau ada apapun yang tidak mengenankan, baik dari diri saya ataupun
novel saya buat semua yang berkumpul di sini, silahkan kemukakan
keberatan itu.
Novel
saya sejauh ini menulis tentang para tokoh, dan saya juga tertarik akan
sejarah. Makanya kalau judulnya dibilang Tokoh
Sejarah dan Tokoh Cersil,
semua yang datang mendengar ceramah ini, rasanya pasti tertarik dengan
tokoh-tokoh dalam novel saya.
Dulu
banyak orang pernah tanya saya, siapa tokoh sejarah yang paling saya
sukai? Kalau biarkan saya pilih, saya ingin jadi tokoh sejarah yang mana?
Sebenarnya orang yang paling enak dalam sejarah Tiongkok adalah Kaisar
Qianlong (Kian Liong). Begitu lahir sudah jadi kaisar, tidak ada
persoalan perebutan kekuasaan, juga tidak pernah melakukan peristiwa
besar yang harus membakar dan membunuh orang, dan selama hidupnya
menjadi kaisar yang tentram dan santai, sudah itu masih meletakkan dasar
peta teritorial besar dari Tiongkok, kaya dan mulia sampai akhir hayat,
tidak ada tragedi keluarga dan hidupnya sangat sempurna.
Latar
belakang kebudayaan orang barat berbeda. Kita tahu epik
tentang Iliad: Orang Yunani pergi menyerang kota Troy, gara-gara
si jelita Helen. Sekarang Helen menjadi kata ganti keayuan di dalam
masyarakat barat. Dalam mitology Yunani, ada tiga dewi. Satu adalah
istri dari Dewa Yunani yakni Juno, satunya dewi pelindung kota Athens
yang bernama Athena, satunya lagi dewi cinta Venus. Mereka bertiga
selamanya merasa paling cantik, makanya mereka minta seorang pangeran
dari kota Troy untuk menilai siapa yang tercantik. Penilaian ini,
pilihannya lewat penyogokkan tentu saja tidak adil. Kalau mau diomong,
budaya dalam pemilihan model ini bukan saja paling jelek, juga sangat
terbelakang.
Juno
menyogok pangerannya, mau berikan dia semua emas dan kekayaan dunia.
Athena mau berikan dia seluruh pengetahuan dunia, menjadikannya orang
terpandai. Venus malah bilang, mau berikan dia wanita tercantik di dunia
untuk dijadikan kekasih.
Pangerannya
pikir, dia adalah seorang raja, kekayaan berlimpah, lalu jadi orang
pandai bisa buat apa? Makanya dia putuskan memberikan apel emas kepada
Venus, dengan harapan bisa mendapatkan wanita tercantik di seluruh dunia
dia mendapatkan Helen.
Kalau
persoalan ini dijatuhkan ke kita sendiri, anda dan saya bakal melakukan
pilihan yang bagaimana? Saya pikir mereka yang pilih paling kaya atau
paling pintar pasti tidak sedikit, tetapi orang yang pilih wanita
tercantik mungkin mengharapkan bisa dapatkan wanita yang paling dicintai.
Wanita yang kamu cintai tidak selamanya harus paling cantik, dan paling
cantikpun belum tentu kekasih yang terbaik.
Pemikiran
orang barat dan orang Tionghoa sangat berbeda. Kalau anda tanya saya
sebenarnya saya pengin jadi orang macam apa, saya selalu berharap bisa
punya kepandaian dan kearifan yang bisa menyelesaikan banyak persoalan
hidup manusia.
Para
ahli filsafat dunia menginduksi kehidupan manusia akhirnya menemukan
bahwa kehidupan manusia sesungguhnya penuh duka derita, banyak masalah
tidak bisa diselesaikan. Sakyamuni bicara tentang hidup, tua, sakit,
mati semuanya penuh duka. Ajaran Budha juga bicara tentang Appiyehisampayoga
(怨憎会)[1]
atau berkumpul dengan yang tak disenangi, dimana orang yang kita sendiri
tidak senangi selalu saja mengikuti kita setiap saat ibarat bayangan
yang mau dipisah pun susah pisahnya. Ini semacam duka. Ada lagi Piyehivippayoga
berpisah
dengan yang dicinta(
爱别离)[2].
Berpisah dengan orang yang sangat dekat dengan kita
juga suatu kedukaan. Ada lagi Yampiccam nalabhati tampi
dukkham
niat
tak sampai(
求不得)[3],
di mana orang menginginkan sesuatu tetapi pada akhirnya tidak
mendapatkan. Ingin meneliti suatu ilmu, tetapi selalu tidak bisa
mengerti. Ingin masuk ke universitas tertentu tetapi tidak diterima;
ingin berdagang untuk mendapatkan sedikit keuntungan tetapi sepeser pun
tidak dapat; ingin berkembang ke arah baik tetapi tidak berhasil.
Pokoknya di dunia ini banyak hal yang tak bisa dicapai, dan karena
keinginan yang tak kesampaian ini jadi menderita.
Kita
tahu, cara mengatasi hal ini dalam agama Budha yakni berupaya menjadi
bijaksana. Setelah arif dan bijak, maka segala urusan duka derita ini
pun bisa dipecahkan, karena bisa melihat bahwa kesulitan hidup ini tak
bisa dihindari.
Bijaksana
dan pintar tidaklah sama. Pintar bisa menyelesaikan masalah kecil,
sedangkan bijaksana bisa menyelesaikan persoalan besar. Kalau niatnya
tidak kesampaian, ya tidak usah berniat untuk mendapatkan. Tanpa niat
jadinya tiada duka. Orang Tionghoa bilang 人到无求品自高artinya
manusia
mencapai taraf tanpa niat tingkatannya sempurna sendiri.
Seseorang kalau tidak ngotot mengejar sesuatu, tentu bersifat mulia.
Sebaliknya kalau ingin merebut sesuatu, tentu akan merendahkan diri.
Kalau sudah mencapai taraf tak ada lagi yang dikejar, sifatnya bertambah
suci dan agung, santai semau gue. Untuk mencapai taraf ini, tentu saja
harus sangat bijaksana. Dulu ada juga orang yang bertanya pada saya,
ingin jadi dua tokoh mana daalam sejarah Tiongkok? Saya bilang saya
ingin menjadi dua orang pintar Fan Li[4]
dan Zhang Liang (Thio Liang)[5].
Mereka berbuat jasa besar, tetapi setelah berhasil mereka malah
mengundurkan diri, tidak tamak, juga tidak menjadi pejabat tinggi,
membawa istri cantik mereka santai bertamasya ke berbagai penjuru. Orang
begini sukar di dapat.
Zhang
Liang hebat, tetapi ada teman yang merasa Fan Li lebih hebat, karena
setelah pergi bersama wanita tercantik dan tidak menjadi pejabat, dia
menjadi Taozhu Gong dan berdagang, jadi kaya, kedengarannya seperti
kehidupan yang ideal. Tetapi jalan pikiran ini sesungguhnya sangat egois,
setelah semua keinginan terpenuhi, tidak ada manfaat apapun pada orang
lain. Fan Li disamping berjasa besar membantu negeri Yue membasmi negara
Wu, tidak ada lainnya lagi. Zhang Liang malah masih membantu Liu Bang
mendirikan dinasti Han mungkin kedua orang berpengetahun ini pada
dasarnya punya banyak prestasi, tetapi sumbangannya berbeda. Kalau
bicara tentang Wuxia (Bu Hiap), saya merasa Wuxia Xiaoshuo harus merubah
namanya menjadi Xiayi Xiaoshuo atau Hiap Gi Siao Suo. Walaupun ada silat
dan perkelahian, sesungguhnya cersil yang saya sendiri paling suka
penekanan utamanya bukan di ilmu silatnya, tetapi dalam Xiaqi atau Hiap
Khi nafas kesatriaan dalam tokoh yang mengandung xia (hiap atau
satria) dan ada yi (gi atau keadilan, pantas
.).
Di Taiwan sangat banyak orang yang memuja Guan Gong (Kwan Kong dalam Sam
Kok). Kehebatan ilmu silat Guan Gong tak dipersoalkan, tetapi yang
begitu dihormati banyak orang adalah urusan dia sangat menjunjung Yiqi
(Gie Khi), dan di kalangan rakyat jelata disebut Guan Gong (atau
Lord Guan), dan kedudukannya sama tinggi dengan Diwang Yue (Ti Ong Ya
alias para kaisar dan raja). Yiqi atau rasa satria (budi, honor dan
integritas) adalah nilai moral yang sangat ditekankan dalam masyarakat
Tionghoa. Orang asing bicara soal kasih di antara sanak famili, orang
Tionghoa selain kasih, masih bicara tentang Yi
(Gie) atau budi. Jadi selain kasih masih harus ada budi. Sekedar
kasih saja tidak laku. Kalau berdagang dan urusannya tidak jadi, tak ada
persoalan. Yang penting masih ada yiyang
tersisah, dan ini yang dimaksudkan jual
beli batal pun budi keaadilan tetap dipelihara(
买卖不成仁义在).
Dalam cersil walaupun dalam kondisi apapun, yi
ini tetap dipertahankan dari awal sampai akhir. Tokoh sejarah atau tokoh
silat, yi
adalah tolok ukur kritik yang penting sekali. Orang asing bertanya pada
saya, apa definisi xia?
Soalnya orang asing selalu berpendapat, yang dimaksud dengan xia itu
asal taat pada suatu aliran agama, suatu organisasi, maka moralnya
sangat tinggi, tetapi xia-nya
orang Tionghoa meliputi urusan membantu orang lain tampa pamrih, bahkan
ada kemungkinan bisa mengorbankan diri sendiri. Dalam cersil yang saya
tulis, ada yang menganggap ilmu silatnya paling jago, terus saja mencari
orang untuk biwu(pie
boe), menghantam lawannya sampai mati. Orang begini tidak mengandung apa
yang dimaksud xia
(hiap) atau bukan
xia(pendekar
atau bukan pendekar), karena yang dicari hanya nama dan kedudukan.
Bertanding dengan orang lain untuk menguasai dunia sebenarnya juga bukan
hal yang jelek, tetapi juga tidak kelihatan sebagai hal yang baik. Ada
orang yang demi temannya, cari orang untuk membalas dendam, dan
mendapatkan kepuasan bathin sudah bisa balas dendam. Tidak jelek tetapi
juga tidak baik. Menurut pandangan saya, tindakan satria bijak (xia yi
atau hiap gie) adalah tindakan di mana diri sendiri tidak mendapatkan
kebaikan apa-apa, malah ada kemungkinan bisa mengorbankan jiwa sendiri.
Harus demi negara demi rakyat, dan ini adalah personaliti ideal mengenai
kebesaran satria.
Berjuta
orang ikut melamum mengelantur bersama saya. Asyik bukan?
Tanya:
Dalam tokoh wuxia ciptaanmu, siapa yang merupakan jelmaan anda?
Jawah:
Tidak ada jelmaan saya di dalam novel saya. Tokoh novel hanya dalam
pemenuhan imajinasi sendiri, saya suka berandai, kalau saja saya jadi
orang ini, bagaimana reaksi saya? Kalau saya punya ilmu silat ini, mau
menghadapi orang ini, harus bertindak bagaimana? Ada sikap yang saya
berharap bisa saya miliki. Ilmu silatnya tinggi, orang membalas dendam
pada dirinya, dia tidak menyimpan dendam juga tidak membalas dendam,
selalu bersikap sudahlah
sudahlah!
T:
Dalam karya wuxiamu, penuh dengan laku satria, tetapi akhirnya selalu
mengundurkan diri dari sungai telaga pergi bertapa. Tolong jelaskan
bagaimana pandangan konkrit anda mengenai pengunduran diri pergi bertapa?
J:
Mengundurkan diri dari sungai telaga hanya cocok di masyarakat kuno.
Kalau memakai pandangan sekarang tentu tidak masuk akal. Tetapi tokoh
wuxia selain mengundurkan diri dari sungai telaga dia tidak punya jalan
keluar lain. Kalau ilmu silatmu hebat, kumpulan sekelompok orang lalu
guling dinasti yang ada dan mengangkat dirimu jadi kaisar mungkin lebih
memuaskan. Tetapi seperti Ming Taicu Zhu Yuanzhang (Beng Tay Cu Cu Goan
Ciang), mengumpulkan orang-orang yang merasa kerajaan Yuan tidak baik
lalu berontak menggulingkan dinasti itu, terus menjadi kaisar. Tetapi
jadi kaisar juga tidak baik, makanya orang-orang yang tidak puas malah
biarkan dia ngawur sendiri, dan mereka tidak ikut campur. Mau campur
terus tidak ada penyelesaian, karena setiap pemberontakan, alasannya
untuk kesejahteraan rakyat, semua ini alasan yang sangat mulia. Begitu
membentuk dinastinya sendiri, balik lagi menindas rakyat. Gimana jadi
kaisar bisa jadi begini? Orang-orang ini lihat tidak mengena di hati,
jadi setelah membantu menyelesaikan urusan, mereka pun pergi, tak mau
ikut campur lagi.
T:
Dalam novel anda, tokoh prianya pasti disenangi segerombolan tokoh
wanita, seperti halnya dalam novel Qiong Yao pasti ada satu tokoh wanita
yang disenangi segerombolan pria. Bagaimana pandangan cinta anda? Selain
itu, dalam novel anda, sifat tokoh wanita tidak seperti sifat tokoh pria
yang sudah lebih matang, apakah tidak ada semacam penyesalan? Apakah
pernah terpikir untuk memakai seorang nuxia (lihiap) sebagai tokoh utama
novel anda?
J:
Saya lelaki, jadi tidak ada jalan untuk mengerti psikologi wanita secara
keseluruhan. Kalau memakai pendekar wanita sebagai tokoh utama, mau
membayangkan kemungkinan dia akan bertindak bagaimana selanjutnya bukan
suatu hal yang mudah. Kalau menulis tentang pria, pasti bisa bereaksi
untuk urusan begitu. Lebih gampang. Kalau mau berantem, juga tidak perlu
keramas dan bersolek dulu baru keluar.
T: Bagaimana sih cara
untuk menulis sebuah cersil? Bagaimana cara mencari bahan dan menyusun
plot? Novel anda komposisinya detail dan rumit. Seringkali lihat sampai
bagian akhir sudah lupa bagian depan, tetapi depan belakang saling
menyambung, susunannya sangat mengasyikkan. Mohon dijelaskan apakah ini
melalui pelatihan yang teliti, berdasarkan simulasi di medan pasir
buatan?
J: Saya menulis novel
biasanya satu hari tulis satu bagian, ada yang sekali tulis sampai 2, 3
tahun. Terkadang sudah tulis sampai belakang lupa apakah sudah dibahas
di depan. Kadang tidak punya waktu menulis garis besar untuk diperluas
kemudian, namun di saat sampai ke tangan pembaca pasti sudah terangkai
rapi.
T: Dalam novel anda,
khususnya mengenai seni catur, ilmu silat, ilmu kedokteran, pengetahuan
agama Budha, semuanya sangat dalam membuat orang pada kagum. Mohon
penjelasan dalam kehidupan nyata, bagaimana bisa menciptakaan kedalaman
penguasaan dalam hal itu?
J: Menulis novel yang kamu
mengerti ya ditulis, kalau tidak mengerti ya tidak usah ditulis. Tidak
seperti mengajar, kalau ada murid mengajukan pertanyaan, tidak mengerti
bisa berabe. Menulis cersil seluruhnya dikontrol oleh pengarang. Yang
kamu tidak mengerti, tokoh dalam bukumu pun juga tidak mengerti dong!
Menulis novel bisa dicari perlahan-lahan, kalau tidak ketemu, ya ganti
penyakit lain, ganti juga obatnya.
T:
Boleh tanya apa alasan anda berhenti menulis?
J:
Sekarang menulis novel sudah tidak ada dorongan lagi. Dulu demi oplah
koran. Sekarang korannya sudah tidak saya urus. Menulis novel itu sangat
payah dan sangat menderita. Apalagi kalau dimuat sebagai serial setiap
hari harus menulis sepotong dan tidak bisa berhenti. Kalau mau tamasya
ke luar negri, jika bukan tulis dulu beberapa bagian lalu ditinggalkan,
maka harus dibawa ke luar negeri. Malam hari tidak tidur dan ngoyo
menulis, begitu pagi hari langsung kirim surat express. Tekanan
bathinnya luar biasa. Di kemudian hari saya juga berharap ada waktu
berlimpah untuk menulis novel lagi. Menulis yang banyak unsur hiburan,
jadi sesudah tulis bisa ikut gembira karena bisa berbagi pengalaman saya.
Namanya juga melamun mengelantur seenak sendiri, beribu-ribu orang orang
juga ikut mengelantur dengan saya. Asyik bukan?
Novel
Sejarah benaran mungkin bisa membiarkan Wei Xiaobao beristeri tujuh,
tetapi tidak bisa membiarkan Wei Xiaobao berperang dengan Rusia.
T:
Kenapa anda menganggap dinasti Song adalah zaman kejayaan Tiongkok?
Berdasarkan penekanan mereka yang berlebihan pada kesusastraan dan
mengabaikan kemiliteran, bisakah itu menjadi landasan yang cukup untuk
ketentraman dan pengembangan?
J:
Dinasti Song adalah masa jayanya Tiongkok. Waktu itu masa awal
pertumbuhan kapitalisme, semua sumber daya pembangunan berkembang pesat.
Bukan saja produksi, teknologi, kebudayaan, kesenian seluruhnya
tertinggi di dunia. Rusia, Amerika belum berkembang, Inggris, Prancis,
Jerman mau bandingkan dengan dinasti Song masih jauh ketinggalan.
Setiap zaman ada baik buruknya. Harus bisa introspeksi secara
keseluruhan. System kepegawaian, system ujian semuanya maju, rakyat
tentram. Tetapi negaranya lemah, jadi sering diserang orang.
T:
Menurut penilaian anda, apakah Kangxi Huandi (Kaisar Kang Shi) bisa
dianggap Kaisar Nomor Satu Tiongkok? Lalu pandangan anda terhadap Gongzi
(Khong Hu Cu).
J:
Di antara kaisar Tiongkok, penilaian saya buat Kangxi tinggi sekali. Dia
bukan saja pikirannya cemerlang, juga rajin belajar, sampai dia belajar
juga pengetahuan luar negeri. Selain itu saya juga sangat menikmati Han
Wendi. (Kaisan Han Bun Ti). Kesopanannya luar biasa. Sebelum meniggal,
dia menulis surat wasiat bilang selama hidupnya dia banyak berbuat salah
dan merasa berdosa, terus meminta maaf pada rakyat seluruh negeri. Sikap
ini susah didapat. Kalau ada bencana alam seperti gempa bumi atau banjir,
dia lalu menulis artikel dan mengumumkan ke seluruh negeri, bilang
karena dia tidak becus kerja, maka dia mendapat kutukan Tuhan. Dirinya
merasa bersalah, dan melakukan kritik pada diri sendiri. Dahulu kala
Kaisar itu adalah orang suci. Tak pernah ada waktu untuk membuat
kesalahan. Yang salah itu orang lain. Selain itu Han Guangwu Di (Han
Kuang Wu Ti - 汉光武帝)
dan dinasti Han juga sangat baik, sangat bijak dan lapang dalam
memperlakukan kawulanya.
Gong
Zi (Kong Hu Cu) adalah Wanshi Shibiao (万世师表,
julukan kehormatan buat Gongzi). Ajarannya tiada dua. Dalam jiwa setiap
orang Tionghoa ada peninggalan ajaran Gongzi, terutama ajarannya
mengenai Keji
Fuli
(克己复礼).
Keji berarti bisa mengatasi niat yang berlebihan dari diri sendiri,
sedangkan ruang lingkup li atau tatakrama sangat luas, meliputi sistem
penguasaan, budaya, hukum dll.
Filosof
Prancis Rousseau pernah menulis sebuah buku berjudul Kebebasan
dan struktur[6].
Diabad ke 18 dan 19, persoalan paling sulit adalah upaya individu untuk
mengembangkan individualisme, meraih kebebasan. Tetapi di belakangnya
ada yang namanya negara. Kalau terlalu memperjuangkan kebebasan individu,
struktur, negara jadi tidak berdaya. Akibatnya negara bisa menjadi kacau.
Keji
Fuli-nya
Gongzi adalah pengekangan diri sendiri dalam
kebebasan individu, pembentukan
sistem dan tatanan negara, menyelesaikan pertentangan, akhirnya mencapai
ketentraman. Lebih dari dua ribu tahun yang lalu Gongzi sudah mempunyai
pandangan bahwa setiap masalah berawal dari ren
alias kebajikan, betul-betul tokoh luar biasa.
T:
Mana perbedaan terbesar antara novel sejarah dan cersil? Adakah bagian
dari karya penulis novel sejarah terkenal, tuan Gao Yang (Kao Yang) yang
bisa kita pakai untuk berefleksi? Kalau anda menulis hong
ting shang ren
atau pedagang bertopi merah[7],
bagaiman anda akan menginterpretasi?
J:
Saya sangat senang dengan novel tuan Gao Yang. Novel sejarah ada suatu
lingkup dasar, yang dikekang oleh peristiwa sejarah. Kendalanya agak
banyak, ruangan untuk imajinasi agak kurang. Misalnya Luding
Ji
agak menyerupai novel sejarah. Tetapi novel sejarah benaran bisa saja
mengizinkan Wei Xiaobao untuk menikahi tujuh istri, tetapi tidak bisa
menciptakan pertempuran antara Wei Xiaobao dan Rusia.
T:
Bagaimana penilaian anda terhadap kedua orang Cao Cao dan Wu Zetian ini?
J:
Dari sudut sejarah kedua orang ini termasuk luar biasa. Cao Cao pernah
dengan bangga mengatakan, kalau tidak ada saya, diakhir zaman Dong Han
(Tong Han atau Han Timur), rakyatnya terbunuh dan semua yang hidup
binasa, para raja saling berebut kekuasaan. Karena sayalah kehidupan
rakyat jadi mendingan. Perkataan dia ini benar. Soalnya saat itu setiap
penguasa berebutan posisi, pedagang mencari nafkah mau lewati berbagai
pegunungan harus lewat berbagai pos jaga, begitu juga pegawai beacukai
tak habis-habisnya memungut pajak, mana tahan rakyat jelatanya? Begitu
disatukan, perjalanan bisa dilalui tanpa berbagai halangan, dengan
sendirinya ekonominya juga ikut berkembang, sehingga ada kontribusinya
pada perekonomian Tiongkok. Sayangnya setiap menguasai suatu kota, dia
lalu perintah untuk melakukan pembantaian. Itu terlalu kejam dan
sebenarnya tidak perlu. Kalau saja dia tidak melakukan ini, dia sudah
bisa menyatukan Tiongkok waktu itu.
T:
Bagaimana pandangan anda terhadap tuan Shu Dongpo (Su Tong Poh) ?
J:
Shu Dongpo itu serba bisa. Kaligrafi, melukis, sajak, syair, esai, dan
sikapnya terhadap orang lain semuanya termasuk kelas satu. Kemampuannya
sendiri juga baik. Yang lebih bikin kagum lagi adalah, baik ayah maupun
adiknya adalah sastrawan kelas satu juga. Kebetulan seperti ini
susah dicari.
T:
Apakah anda punya idola atau orang yang anda puja?
J:
Dalam sejarah saya sangat memuja Yue Fei (Gak Hui). Dia demi negara,
berperang melawan musuh dari luar, korbankan kepentingan sendiri tetapi
akhirnya difitnah sampai mati. Saya juga memuja Shima Qian (Suma Kian)
dan Shima Guang (Suma Kong).
T:
Huang Rong (Oey Yong) cocok tidak untuk hidup di zaman sekarang? Dia
bisa tidak mengikuti test masuk bersama?
J:
Huang Rong kalau ikut test masuk bersama, saya curiga dia bisa main
kepekan. Dia sangat pintar. Belajar fisika atau matematika cepat sekali,
tentu tak perlu mengepek. Tetapi sikapnya yang perfeksionis, kalau ada
soal yang dia tidak bisa jawab, dia pasti berusaha untuk mengepek, dan
sudah kepek pun gurunya tidak bisa temukan.
T:
Siapa dalam tokoh wanita novelmu yang paling ingin anda kawini?
J:
Banyak orang laki menganggap, wanita sebaiknya jangan terlalu hebat.
Makanya kalau Huang Rong (Oey Yong) jadi istri, semua pasti takut.
Kebebasan bergerak jadi hilang, makanya saya paling tidak suka
beristrikan Huang Rong.
T:
Bagaimana anda memperlakukan Wei Xiaobao? Kenapa separuh bagian depannya
Wei Xiaobao sangat ramah, tetapi separuh bagian terakhirnya sangat
sembrono dan jahat?
J:
Ini adalah konsekuensi proses pertumbuhan lelaki. Secara umum, sikap
lelaki terhadap cinta adalah, semakin tua semakin berkurang. Di satu
sisi pengalamannya bertambah, tetapi di sisi lain, kondisi materi dan
kekuasaan juga bertama, makanya kesempatan untuk menghina wanita juga
bertambah.
T:
Bagaimana cara anda menciptakan tokoh seperti Yue Buqun ini, apakah ada
kaitan dengan kehidupan di sekeliling? Apakah bisa diadakan semacam
analisa psikologis bertahap?
J:
Saya membayangkan tokoh Yu Buqun (Gak Pu Cuen?) ini langkah demi langkah.
Perangai, usia, beberapa sifat khususnya, motivasinya bagaimana, dan apa
yang menjadi landasan dia untuk mencapai apa yang dia inginkan?
Berdasarkan kemampuan dan sifat dia, apa saja tindakan yang bisa dia
ambil untuk mencapai tujuannya, dan kalau mengalami kesulitan bagaimana
dia atasi? Psikologi seperti Yue Buqun ini, bisa saja timbul dalam diri
banyak orang. Tetapi orang biasa ilmu silatnya tidak setinggi dia, dan
jalan pikirannya juga tidak sejelimet dia saja. Saya memang menekankan
bagian mengenai rencana jangka panjang dia, sedangkan orang yang dalam
kehidupan sehari-hari banyak menggunakan akal
muslihat, di mana-mana bisa dijumpai.
Dogma
tidak praktis, makanya bertolak dari tanpa jurus, tidak ada patokan
pasti. Bila terjadi sesuatu, langsung diselesaikan berdasarkan apa yang
ada.
T:
Anda sendiri kemungkinan adalah tokoh sejarah buat generasi yang akan
datang. Bagaimana pandanganmu mengenai posisi anda ini? Antara tokoh
sejarah dan politik, mestinya bersikap bagaimana?
J:
Tokoh sejarah dalam tradisi Tiongkok sepanjang ini tak bisa dipisahkan
dari politik. Shima Qian (Suma Kian) waktu menulis biografi dalam Shiji[8]
menggunakan tokoh individu sebagai peran utama, dan menempati urutan
nomor satu di seluruh dunia. Tidak ada orang yang pernah menulis lebih
dini dari Shiji. Lives
of Noble Grecians and Romans[9]
yang terbit kemudian juga menggunakan individu sebagai thema, tetapi itu
sudah di kemudian hari. Tradisi masyarakat Tiongkok secara keseluruhan
sangat memperhatikan politik. Selain tokoh politik, berbagai tokoh lain
dalam buku sejarah biasanya ditempatkan dalam posisi yang tidak penting.
Misalnya dalam Rulin Zhuan atau Kisah Para Cendekia,
Lienu Zhuan atau Kisah Wanita Ternama, Jianren Zhuan
atau Kisah Para Pengkhianat, walaupun peran utamanya adalah
individu, tetapi tidak dalam posisi yang terpandang seperti tokoh
politik. Sedangkan apakah saya pribadi bisa tidak menjadi tokoh sejarah
sebenarnya tidak penting. Saya hanya berharap setelah 100, 200 tahun
kemudian, masih ada orang yang senang baca buku saya. Masih kebagian
satu meja tamulah.
T:
Tolong jelaskan batasan tanpa
jurus menangi ada jurus?
J:
Dogmatisme sesungguhnya masih ada dalam masyarakat. Apapun pasti ada isme-nya.
Sedikit-sedikit orang suka bilang Mao
Zhedong (Mao Ce Tong) pernah bilang,
Sun
Zhongshan (Sun Yat Sen) pernah bilang,
Marx
pernah bilang.
Semua jurus ini sudah ditentukan. Padahal perubahan
masyarakat ada beribu variasi, banyak hal yang orang zaman dahulu
tak pernah pikirkan. Misalnya teknologi network komputer, rasanya Lenin
maupun Sun Zhongshan pun tak pernah berpikir sampai ke sanalah. Dogma
itu tidak praktis, persis seperti tanpa jurus, tidak punya patokan yang
pasti. Kalau ada sesuatu kejadian, ya pakai cara yang nyata untuk
menyelesaikannya. Ibarat biwu (piboe), lihat jurus apa yang digunakan
lawan, lalu cari kekurangannya, sekali tikam langsung mematikan. Ini
maksudnya tanpa
jurus.
T:
Tolong jelaskan bagaimana cara tokoh silat dalam novel anda mencari
nafkah hidup mereka?
J:
Ada tokoh silat membuka biaoke (piao kek) untuk mencari nafkah, dan ini
termasuk kelas bawah. Ada beberapa perguruan sebenarnya adalah tuan
tanah, seperti Wudang pai (Bu Tong Pai), bisa menghidupi diri. Tetapi
ada perguruan yang rada miskin, seperti Linghu Chong dari Huashan pai,
kalau tidak dikasih uang sama suhunya, dia bahkan tidak punya uang untuk
membeli arak. Para pendekar ini lebih banyak yang melarat. Tapi karena
kegiatan ekonomi bukan tema utama dalam cersil, maka biasanya bagian ini
diabaikan.
T:
Apakah dalam kehidupan nyata pernah temukan orang yang perangai dan
sifatnya menyerupai tokoh dalam cersil?
J:
Saya rasa tak bakalan, karena tokoh dalam novel semuanya terlalu
dibumbui. Pada dasarnya tidak ada tokoh wanita atau tokoh pria yang
menarik. Semua itu tidak realistis.
T:
Tokoh wanita dalam novel pada umumnya cantik laksana kembang, hanya
Cheng Lingsu yang perangainya
agak lain daripada yang lain. Mohon dijelaskan apa motivasi dalam
menciptakan tokoh ini?
J:
Wanita yang manarik tidak harus cantik, karena cantik tidaknya adalah
pembawaan dari kandungan, tak bisa diusahakan sendiri. Tapi orang yang
cantik belum tentu baik. Dalam novel saya, tokoh wanita baik yang cantik,
tentu saja suatu karunia Tuhan, namun hal seperti ini jarang ditemukan.
Paras terlalu cantik barangkali semacam kekuranganlah. Mentang-mentang
cantik terus tidak ikuti aturan. Kadang tindakannya keterlaluan juga
dibiarkan. Semua ini tentu saja tidak baik untuk yang bersangkutan.
Cheng Lingsu sangat menarik, orangnya juga pintar, berperasaan dan setia,
susah didapat. Manusia tak bisa hanya berpatokan pada paras dan rupa,
karena paras dan rupa sama sekali tak ada hubungan dengan sifatnya.
T:
Kenapa Yang Guo (Yo Ko) tidak sesuai dengan masyarakat nyata, sedangkan
Linghu Chong (Leng Hou Tiong) malah sesuai?
J:
Yang Guo (Yo Ko) adalah orang yang non-kompromis, sedang Linghu Chong (Leng
Hou Tiong) agak gampangan dan sembarangan. Kalau ketemu persoalan dalam
masyarakat juga tak terlalu dimasukkan ke hati. Dia agak santai, setiap
persoalan baginya tidak ada pakem yang pasti.
T:
Huang Rong (Oey Yong) yang kayak bidadari, kenapa mesti jatuh cinta sama
kunyuk Guo Qing (Kwee Tjeng) yang bego ini?
J:
Cinta punya fungsi pelengkap. Orang yang kamu senangi, sifatnya bisa
berbeda sekali dengan sifatmu. Seperti Huang Rong yang pintar begini,
ketemu Guo Qing yang begitu polos, bisa menikmati nilai sifat mereka
masing-masing.
T:
Apa anda pernah menonton film, TV yang sudah direvisi? Siapa yang anda
rasa perannya paling memuaskan?
J:
Novel saya revisinya banyak, sudah itu para sutradara juga suka merubah.
Setelah melihat saya tidak puas sekali. Saya rasa novel itu panjang jadi
kalau dipotong tak ada masalah. Tapi sebaiknya jangan ditambah. Susahnya,
di film atau TV, kegemaran mereka ya suka tambah sana sini. Contohnya
dalam She Diao Ying Xiong Zhuan (Sia Tiauw Eng Hiong), Huang Youshi (Oey
Yok Shu) koq piara kucing. Dalam tradisi Tiongkok piara anjing itu masih
bisa dimaklumi, tetapi yang piara kucing jarang sekali.
T:
Apakah tokoh sejarah dalam novel bisa dipengaruhi perasaan pribadi, jadi
kalau yang disenangi ya tulisnya agak baikan, sedangkan yang tidak
disenangi yang dijelek-jeleki?
J:
Tentu saja. Tambahkan tokoh sejarah maunya kan untuk menambahkan bumbu
faktual, lalu dengan dukungan tokoh sejarah, pembaca bisa menganggap
bahwa kebenaran ceritera bisa lebih dipercaya. Tetapi gara-gara itu pula
banyak lamunan pribadi yang ikut terbawa.
T:
Percintaan Yang Guo (Yo Ko) dan Xiao Longnu (Siao Liong Li) dalam
kenyataan tidak bisa ditolerir, selain mengasingkan diri, masih adakah
jalan lain dimana percintaan itu bisa dipertahankan?
J:
Sifat kedua orang ini dan masyarakat feodal dinasti Song sulit
didamaikan. Kalau tidak mengasingkan diri, malah bisa bikin porak
poranda dan menimbulkan banyak persoalan di dunia kangouw.
Tamat.
[1]Appiyehisampayoga怨憎會:不喜歡的人常常碰見
atau orang yang
tak disenangi malah sering ketemu. [2]Piyehivippayoga愛別離:親人朋友不能常在一起
Tak bisa selalu
berkumpul dengan sanak famili. [3]Yampiccam nalabhati tampi dukkham求不得: 希望得到的常得不到. Yang diinginkan selalu tidak bisa kesampaian. [4]范蠡,
Fan li. Tahun
kelahiran/kematiannya tidak jelas. Orang Zhu dari zaman Chunqiu.
Pernah bersama Wen Zhong bekerja pada raja Yue selama 20 tahun.
Memiliki beberapa nama, seperti Chiyi zhipi atau kulit buli-buli
tempat menyimpan anggur. Satu nama lagi Tao Zhugong, yang dipuja
sebagai dewa kekayaan di sebagian tempat. [5]張良, Zhang Liang, seorang menteri ternama di awal dinasti Han. Meninggal sekitar tahun 186 SM. Liang adalah seorang putra mahkota Negeri Han (韓國) di zaman perang sekitar 260SM, tetapi setelah negeri Han dimusnahkan oleh Qin (秦), Liang sangat dendam dan berusaha membunuh Qin Shihuang tetapi gagal dan pergi menyembunyikan diri di kecamatan Pei di daerah Jiangshu (Kiang Shu) dan belajar dari pertapa Huang sebelum akhirnya menjadi pembantu Liu Bang dari dinasti Han. [6] Judul bukunya dalam bahasa Tionghoa adalah自由与组织 Ziyou yi zuzhi atau Kebebasan dan Organisasi. Saya tidak temukan judul dalam bahasa Inggris. Kalau ada yang tahu judul buku ini, mohon dikoreksi. Apakah ini salah satu bab dalam Social Contract-nya Rousseau yang membahas relasi manusia dengan masyarakat? [7]
Topi merah adalah warna topi pejabat tinggi zaman Qing, dan pedagang
bertopi merah maksudnya pedagang yang mengelilingi para pejabat itu.
Dalam bukunya dengan judul yang sama, pengarang Taiwan Gao Yang
mengisahkan ceritera tentang seorang kapitalis diakhir zaman Qing
bernama Hu Xueyuan (Ouw Soat Goan) yang bermodalkan dengkul tetapi
akhirnya bisa menjadi bankir yang sukses. Hanya karena keterkaitannya
dalam penumpasan pemberontakkan Taiping dan kerjasamanya dengan
pemerintah, interpretasi dari sisi Hu Xueyuan belum tentu sesuai
dengan interpretasi yang diterima umum sekarang. [8] Shiji ditulis oleh Shima Qian (145 87SM) di zaman dinasti Han. Ada 130 jilid. Kisahnya mulai dari zaman Huang Di (Yellow Emperor) sampai Han Wudi (156 87SM) yang meliputi sekitar 3000 tahun. [9] Referensi yang saya temukan, karya Plutarch ini beredar sekitar tahun 75 100 Masehi, sehingga ada tenggang waktu 100 tahun lebih di antara kedua karya besar ini.
|
||||
|
|
||||
|
|
||||
|
|
||||
|
|
||||
|
[Home]
|
||||
|
© Aris Tanone - 2004 |
||||
|
You are visitor:
|
||||
|
|
||||
|
|
||||
|
|
||||