Kumpulan Terjemahan

PUISI, CERITERA, DAN ARTIKEL BERBAHASA TIONGHUA

Aris Tanone

   
   

   
 
 
 
 
 

Mari Menikmati Sajak Li Bai:

 
 
   

下江陵 

(早发白帝城)

Mengilir ke Jiangling

(Berangkat Pagi dari Kota Baidi)

 

朝辞白帝彩云间 
千里江陵一日还 
两岸猿声啼不住 
轻舟已过万重山

K'la pamitan Baidi dililiti awan lembayung pagi
Ribuan li menuju Jiangling ditempuh dalam sehari
Sepanjang tepi belum terputus pekikan suara lutung 
Biduk ringan sudah melaju melewati gunung gemunung .

Xia4 Jiang1 Ling2 

(Chao3fa1 Bai2di4 Cheng2)

chao2 ci2 bai2 di4 cai3 yun2 jian1 
qian1 li3 jiang1 ling2 yi1 ri4 huan2 
liang3 an4 yuan2 sheng1 ti2 bu4 zhu4 
qing1 zhou1 yi3 guo4 wan4 zhong4 shan1 
   
 
   

Kalau dalam terjemahan saya sebelum ini, Li Bai terus bermabukan dan bicara soal duka, dalam terjemahan sajak berbentuk kwatrin tujuh kata di atas ini kita lihat, tak ada kegundahan yang terungkap. 

Apa yang membuat sajak ini menggambarkan suasana lain dari terjemahan yang sudah ada selama ini? Mari kita simak bersama.

Menurut catatan, syair ini digubah pada tahun 759M. Sebelum itu Li Bai sudah  mengucilkan diri di Lushan (Gunung Lu). Namun dalam upaya menentramkan pemberontakan An Lushan dan Shi Siming [yang dikenal sebagai pemberontakan  Anshi (安史之乱) dalam sejarah Tang yang berlangsung dari tahun 755 - 763M,] Raja Yong yang bernama Li Lin (唐永王李嶙) - putra ke-16 Kaisar Tang Xuanzong mampir ke Lushan, mengajak Li Bai untuk masuk ke dalam barisannya. Siapanyana dalam perebutan kedudukan kaisar antara Raja Yong  dan kakaknya Li Heng (李亨yang kemudian bergelar Tang Suzong(唐肃宗), Raja Yong kalah dan Li Bai ikut kena getah lalu dibuang ke Yue Lang, sebuah daerah di selatan propinsi Guizhou sekarang. Dalam perjalanan ke pembuangan itu, ketika sampai di sekitar kota Baidi, Li Bai menerima amnesti dan sajak itu ditulis untuk mengenang saat Li Bai bergegas pulang mengilir sungai Yangzi dari Baidi menuju Jiangling. Ada yang mengatakan judul lain sajak ini adalah Chaofa Baidi Cheng (早发白帝城) atau Berangkat Pagi dari kota Baidi.

Sebenarnya, karena dalam tulisan aslinya tidak ada tanda baca dan biasanya dua baris digabung jadi satu, kita bisa melihat dalam bahasa aslinya kalau rimanya hanya ada pada akhir baris kedua dan keempat menurut ucapan standar dalam bahasa Mandarin sekarang. Selain itu, bisa dilihat bahwa nama tempat dalam syair ini letaknya pada huruf ketiga dan keempat dalam baris kesatu dan kedua. Itu adalah nama kota Baidi dan Jiangling (yang terdiri dari huruf Bai, Di, Jiang dan Ling, tetapi karena mengikuti konvensi penulisan nama pinying, dalam terjemahan dijadikan satu menjadi Baidi dan Jiangling). Berhubung perbedaan struktur tatabahasa Tionghua dan Indonesia dalam susunan DM (diterangkan/menerang- kan) dan M/D, maka tidak selamanya mudah untuk mempertahankan kedudukan kata-kata ini dalam terjemahan kalau kita tidak ingin merubah jumlah kata per baris. Makanya dalam terjemahan ini Baidi terletak pada kata ketiga, sedangkan Jiangling terletak pada kata keempat. Tentu saja bisa dipaksakan dengan membuang kata 'menuju' dan memberi koma setelah kata 'ribuan li', namun untuk kelancaran kalimatnya, saya korbankan persyaratan itu mengingat hukum DM/MD ini.

   
       
  Baidi adalah sebuah kota di Gunung Baidi di Sicuan. Letaknya tak jauh dari Wushan, salah satu gunung dari Tiga Ngarai Changjiang atau Sungai Yangzi. Pelayaran Li Bai ini melewati Tiga Ngarai yang permai. 

Menurut catatan sejarah, kota Baidi ini di awal zaman Han Timur merupakan tempat kediaman Gongsun Shu. Dalam legenda, dari sumur di depan istana pernah muncul seekor naga putih sehingga Gongsun Shu menamakan dirinya Baidi (Kaisar Putih), lalu gunungnya dinamai Gunung Baidi dan kotanya dinamai Baidi Cheng. Karena letaknya tinggi menjulang ke awan, makanya Li Bai membuka sajak ini dengan mengungkapkan Baidi di antara awan lembayung yang saya gantikan dengan kata dililit untuk menunjukkan bahwa kota ini mencuat ke dalam awan lembayung atau dililiti awan lembayung. Dengan demikian saya mempertahankan penggunaan tujuh kata dan mempertahankan jumlah silabel yang sama setiap barisnya. Sayangnya menurut informasi terakhir di Internet, bila proyek Tiga Ngarai Changjiang ini selesai, seluruh daerah sekitar Baidi akan digenangi air sehingga tengah kota Baidi bisa dicapai dengan kapal.

Jarak Baidi ke Jiangling (di propinsi Hubei sekarang) sekitar 1200 li atau kalau dikonversi ke dalam ukuran kilometer berarti sekitar 600 km.  Mertua dan istrinya Li Bai berasal dari Jiangling, tak heranlah kenapa Li Bai ingin cepat sampai rumah.

Kalau dibaca lagi, sajak ini melukiskan pemandangan. Baris 1,2 dan 4 menunjuk- kan keceriahan, kecepatan dan keinginan untuk cepat sampai ke tujuan, melewati gunung gemunung. Kalau kita lihat lebih jauh, baris kesatu menunjukkan ketinggian letaknya kota Baidi. Baris kedua menyatakan jauhnya perjalanan. Satu-satunya baris yang mengungkapkan jeritan hati mestinya pekikan lutung di kedua sisi sungai. Tapi jeritan itu dipakai di sini untuk memberikan kontras bahwa sebelum sahut-sahutan pekikan lutung di kedua sisi sungai hilang dari pendengaran, biduk kecil yang cepat melaju telah jauh melampaui selaksa gunung gemunung yang dalam bahasa aslinya terdiri dari 3 huruf yang berarti selaksa gunung yang bertumpuk. Ada juga yang mengatakan, setelah mengalami cobaan berat dan untuk menyatakan kegembiraan, orang suka melantunkan dua baris terakhir:

"liang3 an4 yuan2 sheng1 ti2 bu4 zhu4 
qing1 zhou1 yi3 guo4 wan4 zhong4 shan1" 

atau:

Sepanjang tepibelum terputus pekikan suara lutung
Biduk ringan sudah melaju melewati gunung gemunung.

Seperti sediakala, semua kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati.

 

       
   
 
   
   

 

   
   
[Home
   
 

Aris Tanone - 2004

   
You are visitor: since May 30, 2004.