|

|
|
Empat sajak di bawah ini adalah kumpulan sajak Li Bai berjudul 月下獨酌四首
(Yue4 Xia4 Du2 Zhuo2 Si4 Shou3) atau Empat Judul Meneguk Sendiri Bersama
Rembulan. Setelah sepuluh hari menyicil satu persatu, akhirnya saya bisa
selesaikan terjemahan ini.
Kalau diperhatikan dari empat sajak ini, Li Bai
adalah seorang peminum dan sajaknya mengagung-agungkan kan minuman keras
sebagai obat pelipur lara. Tidak ada maksud untuk mengagung-agungkan minuman
keras, selain keinginan untuk menterjemahkan buat sharing keindahan
puisi-puisi Li Bai yang sangat menawan dalam bahasa aslinya.
Tapi seperti yang sudah kita fahami, sangat sulit
memindahkan keindahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain. Seandainya
terjemahan di bawah ini terasa kaku, itu karena keinginan untuk
mempertahankan kekompakkan dalam penggunaan huruf dalam teks aslinya.Atas
dasar itu, walaupun
agak susah, saya tetap berusaha memakai lima kata sesuai format
aslinya, dan berusaha memakai jumlah silabel yang sama per baris sekedar
untuk mem- pertahankan kekompakkan format ini. Kalau setelah dibaca terasa
kaku, itu bukan kesalahan sajak aslinya melainkan ketidakmampuan saya dalam
mentransformasikan keindahan ini.
Riwayat Li Bai sendiri cukup menarik, dan saya akan
menambahkan riwayat ini kemudian.
Menurut catatan sejarah, di simgugur tahun 762 masehi, Li Bai yang tinggal kulit berbungkus tulang
di usia 61 tahun itu sudah tak ingin apa-apa lagi. Yang dia inginkan cuma arak,
arak, dan arak! Selama hidupnya dia sudah terlalu sering mabuk, tetapi itu adalah untuk terakhir
kalinya.
Bersama beberapa teman mereka sedang berperahu di
sungai sambil berpesta minum. Bulan purnama bercahaya kemilau. Li Bai mengangkat gelas mengajak rembulan, dan
melihat bayangan rembulannya terpantul di permukaan sungai. Setengah mabuk dia menceburkan dirinya ke sungai, merangkul rembulan, dan mati!
Berdasarkan aturan kuno, mati tenggelam itu sial, apalagi tenggelam sewaktu mabuk.
Makanya kerabat familinya berusaha serapat mungkin menyembunyikan urusan ini.
Tapi begitulah ketragisan penyair ternama ini. Bahkan ketika dijemput
elmaut pun, masih mendeburkan sebuah sajak.
Sajak atau syair lain yang berkaitan dengan arak
akan menyusul!
|
|
|
| |
|
月下獨酌四首
其一
花間一壺酒,獨酌無相親。
舉杯邀明月,對影成三人。
月既不解飲,影徒隨我身。
暫伴月將影,行樂須及春。
我歌月徘徊,我舞影零亂。
醒時同交歡,醉後各分散。
永結無情游,相期邈雲漢。
|
Empat Sajak Meneguk
Sendiri Bersama Rembulan
1.
Sepoci arak, di antara kembang,
Tak ada sanak, teguk sendirian.
Tawari rembulan, sambil 'kat cawan,
Jadi b'tiga, bila hitung bayangan.
Nikmatnya arak, bulan tak fahami,
Bayangan pun cuma, bisa buntuti.
T'pi bulan bayangan, sedang temani,
Perlu pesta pora, mumpung 'simsemi.
Bulan berayun, kala ku bernyanyi,
Bayangan oleng, kala ku menari.
Baku hibur, tatkala masih waras,
Terus bubaran, kala aku mabuk.
Kekal rekat, lewat guyonan ini,
Rindu bersua, nun di bimasakti.
|
|
|
*** |
|
其二
天若不愛酒,酒星不在天。
地若不愛酒,地應無酒泉。
天地既愛酒,愛酒不愧天。
已聞清比聖,復道濁如賢。
賢聖既已飲,何必求神仙。
三杯通大道,一斗合自然。
但得酒中趣,勿為醒者傳。
|
2.
Bila langit tidak doyan
arak,
Di langit tiada bintang arak*
Bila bumi tidak doyan arak,
Di bumi tiada sendang arak.
Langit bumi pada doyan arak
Bukan dosa kalau doyan arak
Orang bilang arak itu nabi
Sopi murahan 'tu orang arif
Nabi orang arif pada klengar
‘Pa guna lagi 'rusan surgawi?
Tiga sloki sampai jalan raya
Satu gentong menyatu ke alam
Tapi untuk tau nikmatnya arak
Jangan dengari mulut 'rang waras
*bintang arak: 3 bintang
di konstelasi Leo. |
|
|
***
|
|
|
|
其三
三月咸陽城,千花晝如錦。
誰能春獨愁,對此徑須飲。
窮通與修短,造化夙所稟。
一樽齊死生,萬事固難審。
醉後失天地,兀然就孤枕。
不知有吾身,此樂最為甚。
|
3.
Bulan tiga seputar Kota
Xiangyang*,
Ribuan bunga, 'bak gambar sulaman.
Mana tahan, merana di 'simsemi,
Sudah gini, jadi penginnya minum.
Kaya miskin, panjang pendek usia,
Jengukan takdir, saat pagi buta.
'Bis seguci, tap'duli hidup mati,
Sulit meramal, yang bakal terjadi.
Sudah mabuk, terus lupa daratan,
Tersentak kaget, cuma ada guling.
Tidak sadar diri, lupa semuanya,
Nikmatnya arak, di atas segala.
*sekitar
kota Chang An sekarang
|
| 其四
窮愁千萬端,美酒三百杯
愁多酒雖少,酒傾愁不來
所以知酒聖,酒酣心自開
辭粟臥首陽,屢空饑顏回
當代不樂飲,虛名安用哉
蟹螯即金液,糟丘是蓬萊
且須飲美酒,乘月醉高台
|
4.
Duka derita beribu tak terbilang
Arak istimewa tiga ratus sloki
Duka bertumpuk sedang araknya kurang
Keringkanlah arak, derita pun pergi
Itulah sebabnya ahli arak bilang
Bermabukan, maka hati pun gembira
Menolak makan waktu dekami Shouyang*
Kemiskinan bikin Yuan Hui** lapar
Selagi hidup tak nikmati minuman
Apa gunanya mengejar nama kosong?
Campur kaki kepiting, obat mujarab***
Bukit ampas tape, setinggi Fenglai****
Bila harus minum arak istimewa,
Mabuklah di panggung bersama rembulan.
*Shouyang,
nama gunung di provinsi Henan, tempat Boyi dan Shuji menyingkir
setelah upaya mereka untuk mencegah penyerangan Zhou Wu Wang ke negara
Yin mereka tak berhasil. Mereka malu memakan makanan dari Zhou, terus
berpantang, akhirnya mati kelaparan.
**Yuan
Hui adalah murid Kongzi yang dikutip Li Bai untuk menunjukkan
kepapaan. Dalam Analect, bab 6 ayat nama itu disingkat dengan
panggilan Hui saja. Ayatnya sbb: “Hui ini memang bijak. Satu
keranjang makanan, satu buli air, di gang kumuh. Orang tak tahan dia
betah. Dia juga tetap bisa menikmati hidup. Hui itu memang bijak!”
*** Kaki
kepiting atau jepitan kepiting temani arak seakan obat mujarab dalam
kisah dewa-dewi yang disebut cairan emas dalam teks aslinya.
****Gunung
di laut Timur dalam legenda tempat tinggal dewa-dewi, dan maksudnya
di sini ampas tape pembuat arak membukit sampai setinggi gunung
Fenglai di laut Timur. Dua
baris terakhir saya edit lagi 5/25/2004 untuk benari jumlah silabel
dan lebih menyesuaikan terjemahannya. |
|
|
|
|
|
|
|
|
|