Kumpulan Terjemahan

PUISI, CERITERA, DAN ARTIKEL BERBAHASA TIONGHUA

Aris Tanone

   
   

   
   

 

   
   
 
 
   
 

Catatan Akhir “Lian Cheng Jue”

Mantera Kota Berangkai. 

Oleh: Jin Yong. 


Waktu masih kecil, di rumahku di Haining, provinsi Zhejiang ada seorang pembantu tua bernama He-sheng. Dia cacat, badannya bungkuk. Tapi bungkuknya cuma sebelah kanan dan bentuk badannya jadi agak aneh. Walaupun disebut pembantu, dia tidak mengerjakan pekerjaan berat, paling hanya menyapu, bersihkan debu dan antar jemput anak-anak dari sekolah. Teman-teman kakakku kalau melihat dia langsung bertepuk tangan dan mengejek dengan teriakan: 

He-sheng He-sheng si bungkuk seb’lah, 和生和生半爿驼,
Teriaki dia tiga kali bikin dia marah, 叫他三声要发怒,
Ulangi tiga kali lagi bikin dia koprol, 再叫三声翻跟斗,
Waktu dia bangkit lagi kayak bakul bobol. 翻转来象只瘫淘箩  

Kalau sudah begitu saya hanya tarik tangannya He-sheng dan minta anak-anak besar itu supaya berhenti menggoda. Sekali bahkan saya sampai menangis, makanya He-sheng selalu baik terhadap saya. Kalau turun salju atau hari hujan, dia selalu menggendong saya ke sekolah. Tapi karena badannya bungkuk sebelah, tentu tidak bisa gendong di punggung. Waktu itu dia juga sudah cukup berumur, dan papa mama saya selalu melarang dia gendong, takut kami berdua terjungkal. Tetapi dia selalu paksa gendong. 

Suatu kali dia sakit berat, dan saya pergi menengok dia di bilik kecilnya sambil bawa kue. Lalu dia pun menuturkan riwayatnya. 
Dia berasal dari Dan-yang di provinsi Jiangsu, dan orang tuanya memiliki sebuah kedai tahu. Oleh orangtuanya dia sudah dijodohkan dengan seorang gadis cantik anak tetangga. Setalah menabung beberapa tahun, mereka sudah siap untuk dinikahkan. Bulan Desember tahun itu, dia dipanggil untuk menjadi penggiling tepung untuk persiapan tahun baru di rumah seorang pengusaha kaya. Selain sebagai pemilik rumah gadai, orang kaya ini masih punya usaha kecap dan tahu. Dibelakang rumahnya ada taman bunga besar. Giling tahu atau giling tepung, kerjaannya tidak beda jauh. Untuk tahun baru, mereka butuh beberapa karung beras ketan, dan penggilingan ini dikerjakan di ruang belakang. Urusan penggilingan seperti ini sudah sering saya lihat. Setelah giling beberapa hari, di lantai bata hijau di sekeliling penggiling akan terlihat bekas telapak, hasil injakkan para penggiling. Kebiasaan di daerah Kanglam hampir sama di mana-mana, makanya begitu dia bilang saya langsung mengerti. 
Untuk mengejar waktu, kadang penggilingan ini dikerjakan sampai jam 10 atau 11 malam. Hari itu begitu selesai, hari sudah larut. Begitu dia mau pulang, orang-orang di rumah pemilik itu pada berteriak, “ada maling!” Lalu ada orang yang panggil dia ke kebun untuk membantu menangkap maling. Begitu dia lari masuk ke kebun, beberapa orang langsung pentungi dia, dan dia jatuh. Mereka menuduh dia sebagai pencuri, dan beberapa orang terus menggebuki dia sampai babak belur dan beberapa tulang iganya sampai patah, dan itu pula yang menyebabkan dia sampai bungkuk separuh. Karena beberapa pentungan di kepalanya, dia sempat semaput. Waktu siuman, di sekelilingnya ada banyak perhiasan yang katanya ditemukan dalam kantongnya. Bahkan ada yang temukan di bawah tepung dalam bakul bambunya, ada kepingan emas perak dan uang logam. Makanya langsung dia dibawa ke kantor kecamatan. Karena tertangkap basah dengan barang bukti, dia tidak bisa membela diri. Setelah dirotan beberapa puluh kali, dia pun dipenjarakan. 
Kalaupun disebut maling, juga bukan kesalahan besar, tetapi dia sempat mendekam selama dua tahun dalam penjara baru dilepas. Dalam dua tahun itu, papa mamanya sudah meninggal gara-gara penasaran, sedangkan calon istrinya sudah dijadikan gundik oleh anak pengusaha kaya itu. 
Setelah keluar dari penjara, dia sadar kalau semua ini ulah si tuan muda. Suatu hari waktu papasan di jalan, dia langsung cabut pisau yang selalu dia bawa dan menikam beberapa kali si tuan muda itu. Sudah itu dia tidak melarikan diri dan biarkan dirinya ditangkap. Tuan muda itu cuma luka berat, tetapi tidak sampai mati. Tetapi pengusaha kaya itu berusaha menyogok para pejabat, sipir penjara dan berniat membunuh dia agar kemudian dia tidak datang lagi untuk membalas dendam. 
Dia bilang, “Untung dilindung Pousat (dewi Kwan Im), nggak setahun, lo-yaa datang menjabat Zhi1Xian4 (hakim) di Danyang dan beliaulah yang menolong jiwaku.” 
Yang dia maksudkan lo-yaa di sini adalah engkong saya. 
Engkong saya ‘kong Wen-qing (mestinya masuk dalam urutan generasi ‘Mei’. Tapi waktu daftar ujian dia selalu memakai nama Wen-qing) alias Cang-shan. Tetua di kampung suka menyebutnya Cang-shan xian-sheng (Mr. Cang-shan). Dia lulus ujian lokal di tahun Yiyou zaman kaisar Guang Xi (1885) dan lulus ujian pusat tahun Bing Xi (1886), lalu diutus untuk menjadi hakim di kecamatan Dan-yang . Karena dia berjasa dalam pekerjaan, dia pun mendapatkan promosi. Tak lama kemudian terjadilah “Insiden Agama di Dan-yang.” 
Hal ini diungkapkan dalam volum 5, buku tuan Deng Zhi Cheng, “2000 Tahun Sejarah Tionghoa” sbb: 
“Persetujuan Tianjing memperbolehkan misionaris asing untuk menyebar agama, sehingga jejak umat beragama tersebar ke seluruh pelosok Tiongkok. Ada umat brengsek, memanfaatkan orang asing sebagai pelindung dan tidak peduli aturan pemerintah. Rakyat bukan saja jengkel pada perilaku para misionaris, juga mencurigai tindak-tanduk mereka yang serba rahasia, dan seperti yang diramalkan, pertentangan pun makin menjadi. Kalau ada umat yang meninggal, misionaris asing terus pakai alasan untuk memeras, minta uang, bahkan menyalahkan pejabat, memaksa kerajaan untuk menghukum para pejabat seberat mungkin. Pejabat tinggi di perbatasan, bisa dipecat seumur hidup. Ada campur tangan dalam urusan dalam negeri, menyebabkan negara sudah tidak berdaulat penuh lagi. Persoalan agama ini tak habis hitungan, di antaranya yang agak besar adalah: 
“… Perkara agama di Dan Yang. Pada bulan delapan tahun ke-17 kaisar Guang Xi (1891), Liu Kun Yi, Gan Yi-zou, tahun ini… pemerintah mengutus pejabat untuk mengusut berbagai peristiwa pembakaran gereja di Dan-Yang, Jin Kui, Wuxi, Yanghu, Jiangyang, Rugao, dan untuk perkara di provinsi Jiangsu, semua kekacauan ini berawal dari Dan-yang, dan setelah diusut Cha Wenqing dari kecamatan ybs dipecat…..” (Guangxi donghualu volume 105). 
Sebelum engkong saya dipecat, pernah ada satu perkara. Atasannya memerintah dia untuk memenggal kepala dua pemimpin pembakar gereja di depan umum, sehingga bisa pertanggung-jawabkan kepada misionaris asing. Tetapi engkong saya bersimpati pada rakyat pembakar geraja dan menyuruh kedua orang itu melarikan diri. Lalu dia lapor kepada atasannya: Persoalan itu timbul karena misionaris asing menindas rakyat jelata dan menimbulkan kemarahan umum, dan dalam urusan pembakaran gereja itu mereka sekali maju beratus orang, tidak ada yang jadi pemimpin. Setelah itu dia mengundurkan diri dari jabatan, dan kerajaan memutuskan ‘pecat’ sebagai hukuman. 
Setelah peristiwa itu engkong terus pulang istirahat di kampung, habiskan waktu baca buku dan menulis puisi, dan melakukan berbagai kegiatan sosial. Dia menyusun satu volume “Kumpulan puisi Keluarga Cha dari Haining”, dan terdiri dari beberatus bab. Tapi sebelum klise percetakannya selesai, engkong keburu meninggal. (Klise cetakan ini memenuhi dua ruangan, dan akhirnya menjadi bahan mainan cucu-cucunya). Waktu pemakaman, beberapa pemuka dari Dan-yang ikut melayat. Waktu itu kedua pemimpim pembakar gereja juga datang melayat sambil menangis dan paikui sepanjang jalan. Kalau menurut ceritera empek-empek dan ayah saya, kedua orang itu setiap satu li paikui sekali. Mulai paikui dari Dan-yang sampai ke kampung kami. Sekarang saya sudah tidak begitu percaya akan ceritera ini, tapi waktu masih kecil tentu saja sedikitpun tidak meragukan. Tapi kedua orang itu sangat berterima kasih sehingga mungkin saja mereka datang sambil paikui dalam beberapa li terakhir. 
Beberapa waktu lalu ke Taiwan, saya bertemu engkoh misan saya, tuan Jiang Fuzong. Dia adalah kepala Museum Istana, dan dulunya adalah teman kelas kedua empek saya di Universitas Beijing. Dia banyak berceritera urusan engkong saya dan semuanya mengandung pujian. Semua itu ceritera yang saya belum pernah dengar. 
Menurut He-sheng, sewaktu engkong saya menerima jabatan Hakim Dan-yang (Dan-yang Zixian), dia periksa kembali setiap kasus di penjara dan tahu tuduhan palsu atas diri He-sheng. Tapi karena dia melakukan tindakan kriminal dengan menikam orang adalah suatu kenyataan, maka tidak bisa dilepaskan begitu saja. Sewaktu engkong melepaskan jabatan dan pulang kampung, diam-diam dia bawa He-sheng dan biarkan dia tinggal di rumah kami. 
He-sheng baru meninggal zaman perang Jepang. Papa mama saya tidak pernah menuturkan kisah dia kepada orang lain. He-sheng menceriterakan ini pada saya karena dia pikir waktu itu dia tidak bakal sembuh lagi, dan dia tidak pernah pesan agar saya tidak ceriterakan hal ini kepada orang lain.
Kejadian ini selalu tersimpan di hati. “Lien Cheng Jue” berkembang dari kisah nyata ini, untuk mengenang seorang tua yang sangat dekat dengan saya di masa kecil. He-sheng sebenarnya bermarga apa, saya tidak pernah tahu, dan He-Sheng juga bukan nama aslinya. Tentu saja dia tidak bisa silat. Saya selalu ingat kadang satu dua hari dia tidak omong satu katapun. Papa dan mama saya sangat baik pada dia, dan biasanya tidak suruh dia kerja apa-apa. 
Novel ini ditulis di tahun 1963, waktu itu “Mingbao” dan “Nanyang Shangbao” Singapore bersama-sama menerbitkan “Mingguan Dong Nan Ya” (Southeast weekly), dan novel ini ditulis untuk mingguan tersebut. Judul aslinya “Shu-xin jian”. 
April 1977 


Catatan: 
Terjemahan bebas oleh Aris Tanone, April 23, 2003 
Cerita Lian Cheng Jue dikenal di Indonesia dengan judul Soh Sim Kiam, ditjeritakan oleh Gan K.L., terbitan Pantja Satya- Semarang, jumlah jilid 11.

   
 
   
   
   
       
   
 
   
   

 

   
   
[Home]
   
 

© Aris Tanone - 2004

   
You are visitor: since May 15, 2004.