Kumpulan Terjemahan

PUISI, CERITERA, DAN ARTIKEL BERBAHASA TIONGHUA

Aris Tanone

   
   

   
   

 

   
   
 
Sambungan Begajul Cilik Wei Xiaobao....

5.

 
Mengutamakan ‘renqing’ dan ‘yiqi’ adalah ciri khusus masyarakat tradisional Tionghoa, terutama di tingkat rakyat jelata dan masyarakat kelas bawah.
 
Para penguasa menuntut Yuanze (原则) atau ‘prinsip’. Zhong () atau kesetiaan adalah prinsip untuk menaati dan mencintai penguasa. Xiao () atau berbakti adalah prinsip yang menentukan kekuasaan orang tua. Li () atau tatakrama adalah prinsip untuk mempertahankan tatanan sosial. Fa () atau aturan hukum adalah prinsip untuk menjalankan aturan yang ditentukan oleh penguasa. Terhadap lapisan penguasa, keempat prinsip Zhong Xiao Li Fa (忠孝礼法) ini adalah kramat dan tidak boleh dilanggar. Kaisar adalah jelmaan negara, jadi antara kata-kata Zhongjun (忠君) atau setia kepada penguasa  dan aiguo (爱国) atau cinta negara  bisa dikasih tanda sama dengan.
 
Xiao () atau berbakti asal mulanya adalah sifat alamiah untuk mencintai ayah ibu, tetapi para penguasa agak terlalu menekankan dan membuatnya menjadi suatu simbol kekuasaan untuk tatanan masyarakat yang kokoh. Akibatnya di atas rasa cinta alamiah, masih ditambahkan berbagai persyaratan yang kaku. Gabungan antara xiaodao (孝道, berbakti) dan lifa(礼法 atau   menerapkan tatakrama) menyebabkan perasaan segan berada jauh di atas rasa kasih sayang. Dalam sastra tradisional Tiongkok, hasil karya yang menggambarkan kasih ibu banyak sekali sedangkan kasih ayah sangat sedikit. Sebutan untuk ayah adalah Jiayan (家严) atau yang keras (dirumah), sedangkan untuk ibu Jiaci (家慈) atau yang asih (dirumah). Jadi dalam sebutan pun sudah ditentukan ayah keras ibu sayang adalah sifat yang harus ada, seakan-akan sampai sesudah Zhu Ziqing (朱自清)[1]menulis Beiying (背影atau Bayangan Punggung atau bayangan belakang), kita baru punya sebuah kisah menggugah mengenai seorang ayah. Setelah kedua huruf Zhongxiao (忠孝) ini digabung, unsur moral dari Xiao masih ditekankan lagi oleh para penguasa, dan terjadi pemangkasan beberapa unsur yang menyayangkan. Dinasti Han menggunakan dua patokan moral, xiao (berbakti) dan lian (kejujuran) untuk memilih orang berbakat. Sampai akhir dinasti Qing di awal abad lalu, Juren (舉人atau lulusan ujian provinsi) disebut Xiaolian (孝廉).
 
Dalam pandangan rakyat jelata, ‘wufa wutian’(无法无天atau tanpa aturan tanpa langit atau Tuhan) masih bisa diterima, bahkan walaupun ‘wufa wutian’ mengandung unsur meremehkan kekuasaan dan aturan, kadang-kadang terasa ada sedikit unsur yingxiong haohan (英雄好汉atau enghiong hoohan, orang gagah) dalam konsep itu. Tapi ‘wuqing wuyi’(无情无义 atau tanpa perasaan tanpa ke-‘satria’-an) pasti tidak ada, dan bakal dikucilkan jauh di luar masyarakat.
 
Bahkan orang yang ‘wulai wuchi’(无赖无耻atau bajingan tak tahu malu) pun masih bisa punya teman, asal mereka bisa memperhatikan ‘yiqi’.
 
‘Fa’ adalah aturan politik, ‘tian’ adalah aturan alamiah. ‘Wufa wutian’ (无法无天) berarti tidak patuh pada aturan politik dan aturan alam. ‘Wulai wuchi’ tidak patuh pada aturan masyarakat.
 
Tapi di dalam masyarakat Tionghoa, Qingyi(情义, rasa kasih dan kehormatan) adalah aturan masyarakat yang terpenting. Orang yang ‘wujing wuyi’ atau tanpa perasaan dan tak punya rasa satria adalah orang yang paling busuk.
 
Orang Tionghoa tradisional tidak terlalu mementingkan prinsip, tetapi sangat mementingkan Qingyi.
 
 
6.
 
Mengutamakan qingyi tentu saja hal yang baik.
 
Bangsa Tionghoa bisa terus bertambah besar setelah berjalan selama sekian ribu tahun, bisa mempertahankan vitalitas dari awal sampai akhir dalam persaingan hidup, setelah ditindas bangsa asing berulang kali masih tetap bisa bangkit kembali, barangkali ada kaitan besar dengan pengutamaan qingyi ini.  
 
Dari berbagai filosof dalam dan luar negeri sepanjang masa, Kongzi adalah yang paling anti dogma dan mengutamakan kenyataan. Yang dimaksud dengan ungkapan “Sheng zhi shize ye”[2]  adalah orang suci yang gampang menyesuaikan diri dengan lingkungan, tidak terlalu formal dan berpaku pada aturan. Kongzi adalah seorang tokoh besar yang bisa cukup mengungkapkan sifat orang Tionghoa. Dasar filosofi Kongzi adalah “ren”( , yang meliputi unsur kasih, bajik, amal dan prikemanusiaan) , yaitu dalam kehidupan nyata sehari-hari bersikap baik terhadap orang lain sehingga bisa tercapai suatu kerukunan bersama dan persatuan dalam berbagai organisasi besar kecil mulai dari rumah tangga, rukun kampung sampai negera. Renqing (人情) atau tenggang rasa antar manusia  adalah bagian dari “ren”. Dasar filosofi Mengzi adalah ‘yi’(keadilan, keadilan, honor dan hak). Itu adalah semua tindakan yang menggunakan ‘layak’sebagai target. Layak di sini berlaku bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Bertindak layak terhadap diri sendiri mudah,  yang penting janganlah berlaku tidak layak pada orang lain, apalagi tidak layak pada teman sendiri.
Yang dimaksud “di rumah bergantung ayah bunda, keluar pintu bergantung pada teman”[3] itu begini. Ayah bunda dan teman adalah dua pilar besar dalam perjalanan hidup manusia. Makanya“teman”itu  setara dengan hubungan “raja kawula, bapak anak, kakak adik, suami istri”yang merupakan satu komponen dari ‘wu lun’[4] yaitu  lima hubungan pokok manusia. Di masyarakat barat, Persia dan India, tidak ada yang mengangkat hubungan ‘teman’ sampai kedudukan setinggi ini. Mereka lebih mengutamakan hubungan agama, dewa dan manusia.   
 
Kalau sekelompok manusia bersatu dalam harmoni, bertindak penuh kasih, maka sewaktu ada perubahan di lingkungannya mereka bisa mengambil tindakan yang layak untuk menyesuaikan diri. Kelompok seperti ini, kalau bertempur dengan kelompok lain, segala urusan bakal lancar, mampu bertahan dan sering menang. Dahulu kala banyak sekali bangsa yang punya satria pemberani, organisasi ketat, berdisiplin tinggi, berjuang sekuat tenaga  tetapi akhirnya satu persatu menghilang dalam sejarah dan tidak terlihat lagi jejak bayangan mereka. Persoalan utama masyarakat mereka adalah kurangan daya lenting, kurang fleksibel. Masyarakat yang tidak fleksibel menjadi masyarakat mayat kaku. Sedahsyat dan sehebat apapun mayat kakunya, akhirnya akan tumbang juga.
 
 
7.
 
Novel klasik Tiongkok pada dasarnya anti dogma dan anti kekuasaan.
   
“Hongluo Meng” anti sistem ujian kerajaan dan kepangkatan, anti perkawinan yang diatur oleh orang tua dan memuja kebebasan memilih kekasih, yang merupakan pemberontakan atas pikiran orthodox zaman itu. Pada jagoan dalam “Shuihu”[5] bunuh bakar dan rampok yang walaupun akhirnya mendapatkan amnesti, tetapi seluruh buku itu mengisahkan urusan bunuh pejabat dan pemberontakan menentang kerajaan.  Bagian yang paling menarik dari“Xiyou Ji”[6] adalah waktu Sun Wugong mengacau istana langit, menentang Kaisar Yihuang[7]. “Sanguo Yuanyi”[8]menulis ceritera sejarah, akan tetapi tema utamanya adalah “yiqi” dan bukan “zhengdong”[9]alias penyatuan kekuasaan seluruh negeri.
      
“Fengshen Bang”[10]sebagai novel tidak terlalu penting, tetapi pengaruhnya pada pikiran dan adat istiadat rakyat jelata sangat besar. Yang ditulis adalah kisah Wuwang Fazhou[11], atau Raja Wu menyerang Zhou, yang menekankan bahwa “ Dunia (Tiongkok dalam hal ini) bukan milik satu orang, hanya yang bermoral saja yang bisa menempati.”[12] Bagian yang paling menarik mengisahkan pemberontakan Nazha[13]  atas kekuasaan ayahnya. “Jin Pingmei”[14] mengisahkan kebobrokan dalam sifat manusia. (Seperti yang ditunjukkan dalam  analisis mendalam Tuan Sun Shuyu, yang mengacu pada tiga racun dasar manusia, yakni tamak, murka dan kebodohan) yang tentu saja sangat bertolak belakang dengan pemikiran orthodox seperti yang diajarkan lewat ungkapan ‘pada mulanya manusia, sifatnya memang baik’.[15] Dalam “Sanxia Wuyi”[16] tokoh yang paling menarik adalah  tokoh Bai Yutang[17] sebelum berbalik ke pangkuan kerajaan, dan bukan si Kucing kerajaan Zhanzhao[18] yang mengabdi kepada penguasa.
Cersil pada dasarnya juga meneruskan tradisi novel klasik Tiongkok ini.
 
Salah satu alasan cersil bisa mendapat sambutan yang sangat meluas dari pembaca Tiongkok karena moral dasarnya dapat diterima secara meluas di kalangan orang Tionghoa. Cersil (Wuxia Xiaoshuo, Bu Hiap Siao Suo) juga disebut Xiayi Xiaoshuo (Hiap Gie Siao Suo). Xia berarti dengan gigih melawan hal yang tidak adil, terutama ditujukan buat perjuangan untuk membela ketidakadilan yang menimpa orang lain di sekitar. Orang barat menekankan hak untuk mencapai kebebasan, dan ini bukan yang dimaksudkan dengan ‘xia’ buat orang Tionghoa. “Yi” (Gie) menekankan hubungan perasaan antar manusia, dan biasanya mengandung unsur mengorbankan diri sendiri. “Wu” (Bu) malah berarti menggunakan kekerasan untuk melawan kekerasan yang tidak adil. Orang Tionghoa biasanya menyenangi tokoh yang menjunjung tinggi Yiqi. Dalam catatan sejarah resmi, karakter dan kemampuan Guan Yu jauh di bawah Zhuge Liang, tetapi di dalam tradisi rakyat jelata, Guan Yu (Kwan Yi atau Kwan Kong) adalah “Zhenshen” (Dewa Benaran)[19],  “Dadi” (Kaisar Besar) sedangkan Zhuge Liang selalu melambangkan kecemerlangan. Orang Tionghoa menganggap, Yiqi jauh lebih penting dari kecemerlangan. Orang-orang seperti Wusong, Likui, Lu Zhishen[20] dalam “Shuihu” bersifat berangasan dan kejam, selalu melanggar tatanan yang ada, tapi itu tidak penting, karena mereka menekankan “Yiqi” jadi mereka itu pahlawan. Banyak kritikus sastra seringkali tidak bisa mengerti, Song Jiang (Song Kang) itu buta silat buta surat, hanya seorang kroco, tetapi bisa sangat disegani para orang gagah dan terpilih menjadi pemimpin.
 
Alasannya sebenarnya gampang sekali. Song Jiang mementingkan ‘yiqi’. 
  
“Yiqi” dalam konsep moral orang Tionghoa sangat penting. Tidak setia pada kaisar dan kerajaan, angkat senjata berontak, boleh-boleh saja, karena sifat suka melawan orang Tionghoa sangat kuat. Memukuli pendeta menyumpah Budha, mencaci Tooshu memaki Nikou juga boleh karena orang Tionghoa tidak terlalu menekankan agama. Tingkat kebencian rakyat jelata Tiongkok terhadap berbagai tindak kejahatan seperti mencuri, merampok, membunuh, berhubungan dengan pengkhianat, bertindak keji dsb.-nya tidak sehebat yang berlaku di masyarakat luar negeri. Akan tetapi tidak berbakti pada orang tua adalah tabu, begitu juga menjual teman sama sekali tabu. Dari sudut pandang sosiologi,  “berbakti pada orang tua” mempunyai pengaruh besar dalam pengembangbiakan suku bangsa dan pertahanan tatanan sosial masyarakat. “Yiqi” mempunyai pengaruh besar atau persatuan yang tulus dalam persaingan hidup. “Renqing” atau perasaan antar manusia mempunyai pengaruh besar dalam mengeliminasi kontradiksi internal, dan meredamkan bentrokan internal.
 
Dalam novel barat yang sama-sama berceritera tentang perkumpulan gansters seperti  “The God Father, Rage of Angel” dan sebagainya, sang pemimpin jalan hitam bisa saja membunuh anak buah perkumpulannya tanpa pikir panjang. Dalam novel Tiongkok, adegan ini tidak mungkin muncul, karena orang Tionghoa mementingkan “Yiqi” dan hal ini sama sekali tidak bisa diterima. Polisi yang tidak memperdulikan perasaan sesama dan hanya memperhatikan urusan hukum dalam  “Les Miserables”-nya Victor Hugo juga sama sekali tidak bisa diterima oleh orang Tionghoa.
 
Cerdik cendekia bukannya tidak memperhatikan Yiqi. Berbagai buku sejarah seperti “Zuo Zhuan”, “Zhanguo Ce”, “Shiji” dan sebagainya mengisahkan banyak fakta sejarah bahkan dalam bentuk pujaan, mengenai hubungan antar teman yang mementingkan Yiqi.
    
Ketika Ratu Lu[21] berkuasa dalam zaman Xi Han (Han Barat), famili bermarga Lu ingin merampas kekuasaan dari keluarga Liu, maka Chen Ping dan Zhou Bo berupaya untuk menentramkan perampasan kekuasaan ini. Waktu itu kekuasaan tentara ada di tangan Lu Lu, maka teman baik dia Dong Qi menipu dia mengajak pesiar lalu mencopot kekuasaan militernya dan bisa menghabisi para kerabat Lu. Membasmi keluarga Lu adalalah hal yang menggembirakan rakyat seluruh negeri, mungkin seperti ganyang ‘gang of four’[22] di zaman sekarang. Tetapi banyak orang waktu itu menuduh Dong Qi menjual teman, seperti yang dikecam dalam buku sejarah “Han Shu”. Tentu saja kecaman seperti ini tidak adil, karena menaruh urusan pertemanan di atas kepentingan politik. Tetapi memang konsep ‘tidak boleh menjual teman’ dalam hati orang Tionghoa ada akar yang kokoh yang sulit untuk dicabut.
 
Tapi kalau gara-gara orang tua terus melawan hukum, dalam tradisi Tionghoa malah dianggap sebagai hal yang sangat layak. Dalam pendidikan Confusianisme ada sebuah persoalan terkenal begini: “Seandainya ayahnya Shun (penguasa legendaris) melakukan kesalahan besar, hakim agung Gao Yao akan menerapkan hukum sesuai peraturan yang ada, dan akan menjatuhkan hukuman berat. Tindakan apa yang harus dilakukan oleh Shun sebagai seorang kaisar?” Jawaban standarnya adalah: Shun harus melepaskan jabatan kaisarnya lalu membopong ayahnya melarikan diri.
 
Ungkapan “Dayi mieqing” (大义灭亲) atau membunuh keluarga demi ‘yi’ hanya omong kosong saja. Orang Tionghoa yang selalu menekankan hubungan manusia antara keluarga sendiri jarang ada yang bisa melakukan hal ini. Sebaliknya “Hukum tidak menyalahi tenggang rasa”,  “Pertim-bangkan akal budi maupun tata hukum” kalau diomongkan terasa bergema. Omongnya sih pertimbangkan keduanya, tetapi dalam pelaksanaan sesungguhnya yang diutamakan adalah tenggang rasa dan tidak peduli dengan aturan hukum.
     
Dalam konsep tradisi Tionghoa, “Qing” (perasaan) lebih berat daripada “Fa” (hukum). Zhuge Liang mengucurkan airmata ketika menabas kepala Ma Qi walaupun mendapat pujian[23], tetapi kalau dia tidak sampai mengucurkan air mata, penilaiannya akan berbeda jauh. Penitikberatannya adalah pada pengucuran air mata dan bukan pada penebasan.
 
8.
 
Produksi adalah dasar utama yang membawa suatu bangsa dari posisi bawah ke atas terus berkembang. Bangsa Tionghoa bisa bertahan dalam sejarah, dasarnya bertumpu pada rakyat jelatanya yang rajin kerja dan bisa menghemat, dan bisa memproduksikan sendiri segala kebutuhan hidup. Suatu bangsa tidak bisa bergantung pada perampasan hasil  produksi orang lain dan bisa bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama, dan terutama tidak bisa berbuat itu untuk menjadi bangsa besar. Banyak bangsa yang suka menyerobot akhirnya seperti bunga Tan[24] dalam sejarah yang hanya berkuncup sekali, dan alasan utamanya karena daya produksinya lemah.
 
     
Moral persaingan untuk hidup suatu bangsa adalah pertama, harus bisa menghidupkan diri dari usaha sendiri, berikutnya barulah melawan invasi  dari luar.    
 
Masalah produksi adalah urusan yang bersifat jangka panjang, dan tidak ada unsur dramatis di dalamnya. Walaupun dasarnya mulailah dari posisi bawah terus memanjat ke atas, tapi tidak sesuai untuk dijadikan topik novel, apalagi topik untuk cersil.
 
Beberapa orang saja yang tidak patuh hukum dan tak bertuhan  tidak apa-apa, tetapi kalau seluruh masyarakat sudah tidak patuh hukum dan tak bertuhan, semua tatanan dan aturan dihancurkan, maka masyarakat itu tidak bisa bertahan lama. Tetapi kalau semuanya berjalan lancar, rakyat hidup aman dan tentram, suasana itu juga tidak cocok untuk dijadikan tema sebuah novel. Persis seperti urusan kawin mawin, membesarkan anak yang merupakan kejadian lumrah sehari-hari juga tidak pantas untuk dijadikan tema sebuah novel. (Kalimat pertama dalam novel Anna Kareninanya Tolstoy adalah: “Semua keluarga bahagia punya kemiripan antara satu dengan lainnya; tetapi setiap keluarga yang tak bahagia mempunyai ketidakbahagiaan masing-masing”. Yang dia tulis adalah ketidakbahagiaan dalam keluarga.) Tapi kalau semua laki-laki di dunia sama seperti Romeo dan semua prempuan di dunia sama seperti Lin Daiyu, maka manusia pun sudah punah. 
     
Biasanya yang ditulis dalam novel adalah sesuatu kejadian dan tokoh yang khusus dan luar biasa. Ceritera silat pun begitu juga.
 
Tokoh dalam cersil, bukan sengaja mengambil posisi yang bertolak belakang dengan tradisi moral Tionghoa. Kalau lihat ada yang tidak adil, cabut golok saling bantu, pangkal tolaknya rasa belas kasih; menghancurkan bajingan membantu rakyat lemah, membabat habis pengkhianat dan penjahat, bertolak dari rasa keadilan. Integritas moral yang jujur, ada kesempatan serong pun bisa menghindar, semuanya bertolak dari rasa malu atas tindakan jelek; memajukan diri menempuh kesulitan, membalas dendam dengan kebajikan, bertolak dari rasa baik buruk. Konsepsi moral dalam ceritera silat biasanya anti ortodoksi, tetapi bukan anti tradisi.
 
Orthodoksi atau suksesi kekuasaan hanyalah konsep yang diperhatikan oleh penguasa, dan belum tentu sejalan dengan konsep tradisi yang berkembang dalam kalangan rakyat jelata. Han Fei mengecam bahwa “Kongfusiunis memakai bahasa untuk mengacau aturan, sedangkan kesatriaan (xia atau Hiap) menggunakan kekerasan melawan pengekangan.” Ini sejalan dengan pandangan penguasa, yang mengecam para cendekia dalam tradisi Kong Hu Cu menganjurkan ajaran cinta kasih dan tenggang rasa antar manusia dan memporakporandakan kekuasaan yang ketat, sedangkan para ksatria dengan tindakan kekerasan, bisa menyerang tindakan represif para penguasa.
  
Tradisi novel kuno Tiongkok, yang juga tradisi yang diterima oleh Cersil, terutama adalah tradisi rakyat jelata. Seringkali tradisi ini bertolak belakang dengan posisi para penguasa.
    
 
9.
 
Latar belakang cersil adalah masyarakat kuno.
 
Kepalang, kaki, golok dan pedang menjadi tak berguna dihadapan senapan mesin atau pistol. Ini tentu saja alasan utama.
    
Salah satu alasan penting lain adalah, kelansungan hidup masyarakat moderen sekarang menuntut pelaksanaan hukum dan ketertiban, dan bukan mendongkel hukum dan ketertiban.
    
Berbagai tindakan para pahlawan dalam cersil – seorang diri menggunakan kekerasan untuk menerapkan keadilan hukum, membunuh pejabat, mengorganisir perkumpulan terlarang, membobol penjara, menculik, merampok dan sebagainya, di zaman moderen ini bersifat anti sosial, tidak sesuai dengan kepentingan rakyat jelata. Ini sama saja dengan gerakan teroris, dan orang yang bersimpati pada mereka sedikit sekali, kecuali kalau orangnya memang punya kelainan jiwa. Karena dalam negara moderen yang normal, rakyat dan pemerintah merupakan suatu kesatuan. Paling tidak dalam teori disebutkan begitu, walaupun dalam kenyataan masih diragukan.
 
Dalam masyarakat kuno, tindakan maling budiman Luo Binhan dan para orang gagah dari Liang Shan Bo berguna bagi masyarakat banyak, tetapi kalau dilaksanakan dalam masyarakat sekarang malah merugikan masyarakat banyak. Kecuali kalau tindakan itu untuk melawan intervensi dan pendudukan bangsa asing, atau untuk melawan pejabat yang sangat kejam, tidak berprikemanusiaan, dan diktator yang menganggap rakyat jelata sebagai musuhnya.
Untungnya, orang membaca cersil sekarang hanya mempunyai perasaan untuk menjunjung kebenaran dalam spirit, dan tidak pernah ada pembaca yang naif yang ingin pergi meniru tindak tanduk para pahlawan dalam  tindakan nyata.   
 
Berbagai kisah polos tentang anak-anak setelah membaca cersil terus naik ke gunung pergi berguru untuk belajar silat,  juga sudah beberapa puluh tahun tidak pernah terdengar lagi. Mungkin anak-anak juga sudah tambah pintar, sudah mengerti bahwa biarpun bisa berhasil belajar ilmu silat, juga tidak bisa mengalahkan sebuah pistol, makanya tak perlu bersusah payah naik ke gunung untuk berguru. 
 
10
 
Saya tidak merencanakan untuk menulis semua sifat orang Tionghoa di dalam “Luding Ji”[25]. Bukan saja karena tidak punya kemampuan, dalam kenyataan juga tidak mungkin. Cuma di dalam diri Wei Xiaobao, bisa ditonjolkan dengan penekanan kemampuan dia yang dengan leluasa menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar dan memperhatikan ‘yiqi’ sebagai dua ciri utamanya.
    
Kedua ciri utama ini, buat orang asing pada umumnya tidak begitu jelas.
 
Mengenai penyesuaian diri dengan lingkungan, dalam perjuangan hidup adalah suatu keunggulan, tetapi dari segi moral, bisa merupakan suatu kebajikan, tetapi bisa juga merupakan suatu kejelekan. Ambillah Wei Xiaobao sebagai contoh, banyak tindakan dia bukan sesuatu yang terpuji, tetapi dalam masyarakat di awal zaman Qing, tindakan ini buat dia ada untungnya.
 
Kalau diubah lingkungannya, katakanlah di negara moderen seperti Swiss, Finland, Swedia dan Norwegia, peraturan hukum sangat adil dan ketat, kemampuan kontrol masyarakat juga kuat, hasil buat mereka yang oportunis biasanya berabe. Ikuti aturan main jauh lebih baik daripada berbuat curang, makanya orang seperti Wei Xiaobao kalau berimigrasi kesana, rasanya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, dia juga akan bertindak alim ikut aturan dalam hidupnya, walaupun sulit dibayangkan model Wei Xiaobao koq bisa sampai ikuti aturan.
 
Dalam suatu masyarakat, kalau korupsi, curang, menipu dan melanggar hukum hasilnya jauh lebih menguntungkan daripada hidup jujur dan tahu diri, yang harus dirubah adalah masyarakat dan sistemnya. Kalau hal ini digambarkan dalam novel, yang harus disalahkan terutama adalah masyarakat dan sistemnya. Persis seperti dalam novel “Guanchang Xianxing Ji”[26] dan lain lain.
 
11.
 
Orang Tionghoa mementingkan ‘renqing’ dan ‘yiqi’ menyebabkan dalam hidup kita bertambah banyak kehangatan. Dalam lingkungan yang sulit dan miskin, kalau di rumah masih saling bermusuhan, dan dalam hubungan antar manusia dipenuhi dengan kedinginan dan dendam, hidupnya pasti sulit sekali.
    
Dalam kehidupan kota yang kondisi materinya berlimpah, boleh saja tidak perhatikan renqing atau yiqi. Walaupun hidupnya agak melempeng, tetapi toh masih bisa bertahan hidup. Di masyarakat petani desa yang miskin, tenggang rasa ini perlu sekali.    
 
Dalam dunia kangouw yang penuh mara bahaya, yiqi adalah tuntutan moral tertinggi yang tiada duanya.
 
Namun kalau sudah bicara tentang tenggang rasa dan berlaku satria lalu tidak peduli prinsip yang diterima, maka akan muncul pula berbagai sifat buruk. Politik Tiongkok yang terus tidak bisa masuk kedalam rel, ada hubungan langsung dengan sikap orang Tionghoa yang terlalu bertumpu pada tenggang rasa dan laku satria. Main koneksi, bikin klik, rok ikut bergoyang alias istri ikut berkuasa, tidak menghargai kemampuan tetapi menitikberatkan family dan orang sekampung, bahkan sampai tenggang rasa dan laku satria ini merugikan kepentingan umum pun masih diteruskan. Akibatnya jadi penuh kabut tak keruan karena ‘perilaku Wei Xiaobao’ mengungkungi seluruh masyarakat.
 
Dalam kondisi seperti Tiongkok, ‘perilaku Wei Xiaobao’ ini semakin kurang semakin baik.
 
Namun kalau seperti masyarakat barat, antara orang tua dan anak dewasa mereka pun tidak ada tenggang rasa yang dilakoni, semua serba resmi, tidak ada tepo seliro, hanya berpegang pada hukum, tidak ada tenggang rasa; hanya ada soal prinsip, tidak peduli rasa satria, apakah bukan agak keterlaluan? Wei Xiaobao kalau berubah jadi Bao Longtu[27] yang berwajah dingin tak pedulian, apalagi yang menarik?
 
Tugas sebuah novel bukanlah untuk menyajikan jawaban atas suatu persoalan, tetapi hanya mengisahkan dalam kondisi masyarakat seperti itu, ada tokoh seperti itu, bagaimana mereka bertindak, bagaimana mereka berpikir, bersedih atau bergembira.
   
Demikianlah berbagai perasaan campuraduk tatkala saya berpikir tentang begajul cilik Wei Xiaobao ini.
Sejujurnya, waktu saya mengarang “Luding Ji”, sama sekali tidak terpikir semua ini. Dalam beberapa bulan pertama mengarang, bahkan seperti apa sifat Wei Xiaobao pun tidak ada kepastian bentuk. Dia bertumbuh dan berkembang perlahan-lahan sekali.
    
Dalam pengalaman saya, tokoh utama sebuah novel waktu pertama kali tulis hanya ada bayangan kabur yang sederhana. Perlahan-lahan ceriteranya berkembang, tokohnya pun makin kentara.    
Sebelumnya sedikitpun saya tidak pernah berpikir, bakal mengeluarkan tenaga menggambarkan tentang dua ciri khusus Wei Xiaobao yang (dengan tujuan menghalalkan cara pun) selalu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menekankan rasa satria. Entah bagaimana, kedua sikap utama ini bisa mendadak muncuk dalam diri  bajingan kecil ini.
   
Teman-teman senang bicara tentang Wei Xiaobao. Dalam salah pertemuan di Taipeh, tujuannya mau diskusi tentang “Cersil Jin Yong”, akhirnya Ύ waktunya dihabiskan untuk berdebat tentang sifat Wei Xiaobao. Banyak pembaca yang menanyakan pendapat saya, makanya saya pun ikut berpikir lalu berusaha menganalisa sejenak.
    
Analisis di sini sedikitpun saja tak ada nilai ‘autoritas’-nya, karena ini adalah kesan-kesan pasca kejadian, dan sama sekali tidak ada hubungan dengan rencana dan perasaan waktu menulis. Saya menulis novel, selain penelitian dan gambaran tentang struktur ceritera dan fakta sejarah, yang utama berpangkal pada perasaan seutuhnya dan tidak begitu ada hubungan dengan analisis rasional.
 
Karena memang sejak semula saya tidak berpikir untuk dalam satu novel, sengaja menonjolkan suatu tema yang begini begitu. Kalau ada pembaca yang merasa di dalamnya mengandung tema apa, itu pasti terbentuk secara tidak sadar. Saya yakin kesimpulan yang dibuat para pembaca sendiri, akan berbeda di antara sesama.
    
Dari “Shujian Enzhou Lu”[28] sampai “Luding Ji” sebanyak belasan novel ini, saya rasa yang berkaitan cuma tokoh dan perasaan.   Wei Xiaobao bukan orang yang punya perasaan mendalam. Luding Ji juga bukan buku yang bertumpu pada perasaan. Yang ditulis tentang perasaan yang agak khusus adalah hubungan bathin antara penguasa dan kaulanya dari Kangxi dan Wei Xiaobao, yang mengandung kontradiksi dan pertentangan, juga ada rasa setia kawan yang merupakan perasaan yang rumit. Ini sepertinya belum pernah ditulis di novel yang lain.
    
Dalam diri Wei Xiaobao ada banyak kebaikan dan keburukan umum orang Tionghoa, tetapi Wei Xiaobao tentu saja bukan orang Tionghoa tipikal. Sifat kebangsaan adalah suatu konsep yang luas, sedang Wei Xiaobao hanyalah seorang yang dilengkapi dengan sikap pribadi yang unik. Liu Bei, Guan Yu, Zhuge Lian, Caocao[29], A Q[30], Li Daiyu[31] dan sebagainya pada memiliki suatu sifat khusus tertentu dari orang Tionghoa, tetapi tetap tidak bisa dibilang itu tipikal orang Tionghoa.
Sifat orang Tionghoa terlalu rumit, sepuluh ribu novel pun juga tak bisa selesai menguraikannya. Sun Wugong, Zhu Bajie, Shazheng[32] dan sebagainya bukanlah manusia, tetapi dalam diri mereka pun ada sikap tertentu orang Tionghoa karena yang menulis kisah ‘mahluk halus’ ini juga orang Tionghoa.
Ide-ide ini, mulanya ditulis secara sederhana di catatan akhir Luding Ji, tetapi kemudian saya pikir, pengarang tidak seharusnya bicara banyak tentang hasil karya sendiri karena itu bisa menghambat penilaian dan keasyikan pembaca. Makanya setelah selesai ditulis lalu dicopot. Apalagi biasanya terhadap tokoh ciptaannya, pasti ada ‘bias’ pengarangnya.
 
Jelek-jelekpun anak sendiri[33], rasanya tidak bisa ada analisis yang rasional. Kenyataannya, waktu menulis sekitar seperlimanya Luding Ji, saya sudah menganggap begajul cilik Wei Xiaobao ini teman baik saya, lebih toleran, sedikit melindungi, dan sifat orang Tionghoa yang lebih pentingkan perasaan dan tak pedulikan akal pun mulai kumat. Karena redaksi lagi mencari naskah, dan yang sudah ditulis panjang pun mau buang sayang, makanya ubah sana sini buat dijadikan bahan gossip.
 
Rampungkannya juga tergesa-gesa, yang terpikirkan rasanya tidak menyeluruh.
 
(Tamat)


[1] Zhu Ziqing (1898 – 1945), pengarang asal Yangzhou, Zhejian.
[2] 圣之时者也. James Legge menterjemahkan julukan yang Mencius berikan kepada Confusius ini dengan “Confucius was the timeous one.” http://simple.ishwar.com/confucianism/holy_mencius/part_19.html
[3] 在家靠父母,出门靠朋友
[4] 五伦
[5] Shuihu Zhuan atau All Men are Brothers yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Pearl S. Buck. 
[6]西游记: Perjalanan ke barat.
[7] Kalimat aslinya:孙悟空大闹天宫, 反抗玉皇大帝.
[8]三国演义:Terkenal di barat dengan judul The Three Kingdoms.
[9]正统 di sini berarti penyatuan kekuasaan seluruh negeri, dan bukan negara-negara bagian. Tapi Zhengdong juga bisa berarti tradisi pikiran atau ide yang ortodox.
[10] Fengshen Bang (封神榜) atau Investiture of the Gods adalah novel klasik dari dinasti Ming berdasarkan legenda yang menceriterakan tentang dewa-dewa dan pahlawan. Di Indonesia dikenal dengan nama Hong Sin.
[11] Wu wang (武王)adalah Raja Wu dari dinasti Zhou () yang menumbangkan Raja Zhou (纣王), seorang tirani di akhir dinasti Shang (商朝). Dalam sejarah dinasti baru ini dikenal sebagai Western Zhou  (西周) yang terbentuk di tahun 1046SM, setelah Raja Wu menaklukan lagi berbagai suku dan negara kecil sekitarnya setelah penaklukan raja Zhou ini.
[12] Ungkapan天下者非一人之天下,惟有德者居也ini dikutip dari buku Liudao (六韬), sebuah buku strategi perang setingkat bukunya Sunzi, yang diperkirakan adalah produk di zaman Warring States. Sewaktu dinasti Song, buku ini termasuk salah satu dari ‘Wujing Qishu’ atau tujuh kitab strategi militer. Ungkapan ini diambil dari bagian yang mengisahkan perbedaan antara seorang Kaisar dan Pencoleng.
[13] Nazha (哪吒)adalah terjemahan untuk Nalakuvara dalam Ramayana India.
[14] Jinping Mei (金瓶梅) atau Plums in a Golden Vase adalah novel erotik yang mengandung kritik social.
[15] Aslinya 人之初,性本善diambil dari Sanzi Jing, Three Character Classic yang ditulis di abad 13. Walaupun tidak termasuk dalam 6 buku klasik Kong Hu Cu, buku ini berisi esensi dari ajaran dasar Kong Hu Cu yang disajikan dalam kombinasi 3 huruf yang sangat cocok untuk mengajarkan pada anak-anak, dan dipakai sebagai pelajaran dasar formal buat anak-anak di rumah. Ada yang menyebutnya  Katekismus Kong Hu Cu.
[16]Sanxia Wuyi:三侠五义 judul buku ceritera dari zaman Qing. 
[17] 白玉堂 Bai Yutang, salah satu tokoh dalam Sanxia Wuyi.
[18] 御猫展昭 Yumao atau kucing kerajaan Zhangzhao.
[19] Dalam Taoisme, Guan Gong juga disebut Guanshen Diqun (帝君).
[20] Wu Song (武松)Li Kui(李逵)Lu Zhishen (鲁智深)
[21] Istri kaisar pendiri dinasti Han, Liu Bang. Ratu Lu berkuasa selama 16 tahun dari 195–180SM.
[22] Kelompok empat Madame Mao.
[23] Dalam kisah San Guo, adegan ini dikenal dengan ungkapan Hui Lei Zhan Ma Qi atau membabat Ma Qi sambil mengucurkan air mata.
[24] 昙花一现 atau 曇花一現, ungkapan untuk penampilan yang jarang dan hanya sekali saja, ibarat bunga malam (nightblooming cereus, the Ficus carica) yang hanya berkuncup di malam hari terus layu esok harinya.
[25] Luding Ji adalah karya penutup Jin Yong. Lihat catatan kaki 1.
[26]官场现形记, judul sebuah ceritera bersambung di koran awal abad lalu (1903 – 1905) yang mengisahkan kebobrokan pemerintahan di akhir zaman Qing.
[27] Dalam film silat dikenal sebagai Judge Bao. Nama aslinya Bao Zheng (998-1061Masehi)
[28] Novel pertama Jin Yong. Versi Inggrisnya diterjemahkan oleh Graham Earnshaw dengan judul “The Book and the Sword” bisa ditemukan di Internet, sedangkan bukunya sudah diiklankan oleh Amazon.com dan diterbitkan Maret 2004 oleh Oxford UP. Versi bahasa Indonesianya: Putri Harum dan Kaisar (Su Kiam In Siu Lok) terjemahan Gan KL diterbitkan oleh Pantja Setya, 1961.
[29] Keempat tokoh ini adalah tokoh dari Three Kingdoms atau Sam Kok.
[30] Tokoh dalam karya pengarang kenamaan Tiongkok sebelum perang Lu Xun. Versi bahasa Indonesianya Riwayat si A Q pernah diterbitkan oleh Yayasan Kebudayaan Sadar di awal tahun 1960an.
[31] Tokoh dalam Impian Loteng Merah.
[32] Tiga tokoh ini berasal dari Kisah Perjalanan ke Barat.
[33] Aslinya: 癞痢头儿子自家好yang berarti biar pitak-kudisan pun anak sendiri paling baik.

 

   
   
 
   
   
   
   

kembali ke bagian pertama artikel ini.

   
   
 
   
   

 

   
   
[Home]
   
 
   
You are visitor: since May 8, 2004.