Kumpulan Terjemahan

PUISI, CERITERA, DAN ARTIKEL BERBAHASA TIONGHUA

Aris Tanone

   
   

   
 
  Terjemahan ini pertama kali muncul milis Tjersil (tjersil@yahoogroups.com). Aslinya saya ambil dari situs berisi artikel non-cersil Jin Yong, dedengkot cersil moderen yang terkenal di Indonesia lewat seri Sia Tiauw Eng Hiong (Memanah Burung Rajawali), Sin Tiauw Hiap Lu (Pasangan Pendekar Rajawali), To Liong To (Golok Pembunuh Naga) dan lain-lain. Karena saya belum pernah temukan versi bahasa Inggrisnya, maka tulisan ini saya terjemahkan untuk sharing dengan teman teman pecandu Tjersil. Dalam tulisan asli tidak ada satupun catatan kaki. Semua catatan kaki adalah hasil tambahan saya. Sementara masih diusahakan izin dari pengarang. Bila anda ingin terbitkan tulisan ini, silahkan hubungi saya. 
 
 
   

Begajul Cilik Wei Xiaobao[1].

(韦小宝这小家伙)
oleh: Jin Yong (金庸)
terjemahan bebas oleh: Aris Tanone.

1.
 
Sifat manusia itu sangat rumit.
 
Yang biasa disebut sifat manusia, sifat bangsa, sifat klas, orang baik, orang jahat dsb.-nya adalah suatu gambaran yang sangat umum. Kakak beradik dalam satu keluarga, mewarisi sifat keturunan yang sama, bertumbuh dalam lingkungan yang sama, tetapi sejak kecilpun sudah kelihatan ada perbedaan sifat yang menyolok. Ini adalah suatu pengalaman umum.
 
Dalam pandangan pribadi saya, novel itu mengutamakan penulisan tokoh, penulisan perasaan, sedangkan alur ceritera dan lingkungan hanyalah cara untuk melukiskan tokoh dan perasaan. Perasaan agak memiliki kesamaan dan meliputi suka, duka, marah, gelisah, cinta, benci dan sebagainya. Walaupun intensitas, kedalaman, tingkatan dan perubahan bisa bervariasi, tetapi dari dulu sampai sekarang dan di manapun di dunia ini, garis besarnya tidak terlalu jauh berbeda.
 
Sifat manusia tidak ada yang sama. Ini yang dimaksudkan dengan karakter pribadi.
 
Pasangan-pasangan Romeo dan Juliet, Liang Shanbo (Leang San Pek) dan Zhu Yingtai (Cu Ing Tae), Jia Baoyu (Cia Pao Giok) dan Lin Daiyu[2] (Liem Tai Giok), cintanya mendalam dan berkobar-kobar tetapi perbedaannya tidak besar. Namun perbedaan dalam sikap antara Romeo, Liang Shanbo, Jia Baoyu bertiga dan antara Juliet, Zhu Yingtai, dan Lin Daiyu bertiga rasanya tak bakalan selesai terungkap dalam ribuan kata.
   
Dalam analisa para peneliti drama barat, plot drama dan novel pada dasarnya hanya ada 36 macam.
    
Dengan kata lain, drama kehidupan manusia akan susah untuk melampaui ke-36 perubahan plot ini. Akan tetapi dari dulu juga sudah ditulis beratusribu macam drama dan novel, dan sejak sekarang pun akan muncul lagi beratusribu pentasan drama, beratusribu penerbitan novel. Manusia tidak pernah bosan gara-gara perulangan plot ini.
 
Karena tokoh dalam drama dan novel berbeda. Tentu saja, teknik pengungkapan dan metodenya berbeda. Gaya seorang pengarang adalah bagian dari sifat pengarang.
   
 
2.
 
Novel mencerminkan sifat dan imajinasi pengarang. Ada pengarang yang mengutamakan penulisan pengalaman pribadinya, termasuk pengamatannya terhadap orang lain. Ada yang mengutamakan penulisan imajinasinya, tetapi akhirnya mengandung juga pengalaman baik yang langsung ataupun tak langsung. Cersil sangat bergantung pada imajinasi. Pengalaman hidup, sifat dan emosi, akhirnya bergantung juga kepada pengalaman dan pengamatan.
 
Di antara penyair dan pemusik terdapat banyak shentong alias anak ajaib atau jenius. Mereka mengutamakan penulisan perasaan mereka dan tidak perlu harus mengalami atau mengamati sendiri. Novelist dan pelukis biasanya agak berumur. Tentu saja, karya puisi yang kaya perasaan dan isinya berlimpah seperti hasil karya Qu Yuan[3], Du Fu[4] biar anak jeniusnya berniatpun tak bakalan berhasil.
     
Karya pertama seorang novelis, biasanya ada kaitan dengan dirinya, atau, yang dia tulis adalah hal-hal yang sangat dia ketahuai dengan baik. Di kemudian hari, pengalaman hidup bertambah rumit, isi novel pun jadi ikut bertamhah rumit.
    
Novel pertama saya  Shujian Engzhou Lu(Su Kiam In Siu Lok) menulis tentang legenda yang beredar di kampung waktu masih kecil, yaitu Kaisar Qian Long[5] (Kian Liong) adalah anak orang Han. Sifat seperti Chen Jialuo (Tan Kee Lok) ini banyak terdapat dalam diri para cendekiawan. Hangzhou (Hang Ciu) dan Ninghai adalah kampung halaman saya. Luding Ji(Lu Ting Ci) adalah novel terakhir saya sampai saat ini. Kehidupan yang diungkapkan adalah sesuatu yang sama sekali tidak saya ketahui. Rumah bordil, istana kaisar, kerajaan, pulau gersang, dan tokohnya semua asing bagi saya. Bajingan kecil seperti Wei Xiaobao, bahkan separuhnya saja dalam seumur hidup pun belum pernah saya temui. Yangzhou belum pernah saya datangi. Saya pasti telah mengaduk semua hasil pengamatan dan pengamatan sifat berbagai macam manusia dan meluluhkan dalam diri Wei Xiaobao.
Keistimewaan dari sifat dia adalah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mementingkan yi qi[6].
 

3.

Kondisi alamiah Tiongkok tidak terlalu baik. Tanah garapan kurang tapi penduduknya berjubel. Mesir, India, Yunani, Romawi dan berbagai bangsa besar zaman dahulu sudah pada musnah. Orang Tionghoa berjuang dalam kondisi persaingan hidup yang sangat sulit, tetapi sampai sekarang masih mempertahankan vitalitas yang cukup, dan masih merupakan bangsa yang penduduknya paling banyak di dunia. Semua in tentu ada sebabnya. Ditinjau dari teori biologis maupun antropologis, kemungkinan besar karena kami paling bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.
 
Orang yang bisa menyesuaikan diri dengan  lingkungan, belum tentu adalah orang yang tingkatan moralnya paling tinggi. Yang menyesalkan adalah, orang bermoral tinggi, baik dalam perilaku kehidupan manusia atau dalam persaingan, biasanya kalah.
    
Dalam sejarah Tiongkok banyak terdapat catatan mengenai mereka yang bermoral tinggi dibunuh oleh mereka yang bejat, dan baca yang beginian bikin tak enak di hati. Tetapi kenyataan memang begitu, walaupun para penulis sejarah sejak awal sudah berusaha sebisa mungkin untuk tidak melukiskan bahwa pemenangnya tidak begitu dina dan bejat. Sejarah tidak seperti yang diharapkan orang banyak, bahwa orang baik akhirnya akan menang.
 
Song Gaochong[7] dan Qin Kuai membunuh Yue Fei[8] dan bukan Yue Fei yang membunuh Qin Kuai. Banyak orang besar hebat sekali, tetapi cara mereka memperoleh kemenangan juga tidak begitu terhormat. Misalnya Tang Taichong[9] membunuh kakak dan adiknya baru mendapat kedudukan kaisar, walaupun kakak dan adiknya juga belum tentu lebih bermoral.
 
Sejarah negara-negara lain juga tak begitu berbeda. Inggris, Rusia dan Prancis dll tak perlu diomongkan lagilah. Di Amerika, moral orang Indian tidak tahu seberapa jauh di atas moral orang kulit putih Amerika.  
 
Dari posisi bangsa suatu negara, setiap hal yang berguna bagi bangsa negeri itu, adalah hal yang bermoral tinggi. Syukurlah masih ada juga nilai universal mengenai keadilan dan salah benar yang diakui umat manusia.
    
Yang masih bisa menghibur juga adalah, berbagai tindakan umat manusia dalam pertempuran politik moderen  makin lama makin berbudaya, dan taraf kebejatan secara keseluruhan boleh dikata berkurang. Media komunikasi massa ikut menopang fungsi pengembangan moral ini. Dilihat dari sudut sejarah, umat manusia zaman sekarang jauh lebih bermoral dibandingkan dahulu, tidak terlalu kejam,  tidak terlalu menghalalkan cara untuk mencapai tujuan.
 
4.
 
Moral adalah produk budaya. Di antara orang-orang biadab tidak ada moral.
 
Wei Xiaobao dari kecil hidup di rumah bordil, dan rumah bordil adalah tempat yang paling tidak bermoral. Kemudian dia masuk ke istana, tetapi istana juga bukan tempat untuk pembuktian moralitas. Dalam pertumbuhan hidup, dia adalah orang biadad di tengah masyarakat berbudaya. Untuk bisa hidup dan mencapai kemenangan, tidak ada yang tak halal bagi dirinya. Mencuri, menyerobot, menipu, berbohong, membual atau menjilat, semuanya dikerjakan. Setelah mengerjakan sesuatu yang jelek, hati nuraninya sedikitpun tidak bergeming. Dalam kelompok kanibal, tak ada aturan yang mengatakan bahwa memakan daging manusia adalah sesuatu yang tidak patut.
 
Wei Xiaobao buta huruf, dan sejak semula tidak pernah tahu mengenai ajaran moral Kongzi (Kong Hu Cu) dan Mengzi (Meng Cu).
    
Tetapi ajaran Kong dan Meng mempengaruhi seluruh masyarakat Tiongkok, atau, Kongzi dan Mengzi adalah  orang yang menginduksi dan menyarikan bagian terbaik dalam alam pikiran orang Tionghoa yang kemudian dijabarkan secara sistematis. Wei Xiaobao hidup dalam masyarakat Tionghoa. Walaupun merupakan orang biadad di kampung atau istana, dia toh butuh bergaul. Dengan sendirinya dia bisa menerima moral yang diterima dalam masyarakat Tionghoa. Apalagi setelah dia masuk menjadi anggota Tiandi Hui[10], dia juga menerima pandangan moral dunia kangouw di Tiongkok. Tentu saja ukuran moral ini berbeda dengan yang dianut oleh mereka yang terdidik ataupun pejabat negara.
 
Golongan terdidik ini mengerti sekali mengenai moralitas tetapi sedikit sekali tindakannya. Orang dunia kangouw menganut moral yang minim sekali, tetapi sejauh penyelewengan moral, biasanya mereka tidak berani. Dalam dunia kangouw, satu-satunya nilai moral yang dijunjung adalah yiqi. Sejak zaman Chunqiu Zhanguo[11], setiap orang yang bekerja di masyarakat tak ada yang berani mengabaikan kedua huruf  yi qi begitu saja.
 
Satu lagi yang sangat dijunjung tinggi dalam masyarakat Tionghoa adalah qing () seperti dalam huruf renqing (人情)atau tenggang rasa manusia.      
 
 Klik di sini untuk baca lanjutannya.......



[1] Tokoh novel Lu Dingji yang terjemahan bahasa Indonesianya berjudul: Si Kasim Tjilik (Marga Jaya, 1972) dan Kaki Tiga Menjangan (Sanjaya, 1993). Terjemahan Inggrisnya:Duke of Mountain Deer (Oxford, 1999). Xiaobao berarti perhiasan kecil. Dalam versi Inggris dipanggil Trinket Wei.

[2] Tokoh dalam novel Honglou Meng(红楼梦)  Impian Loteng Merah atau versi Inggrisnya, Dream of the Red Chamber.

[3] Qu Yuan(屈原) 339 278SM, penyair dari negeri Zhu di zaman perang. Karena putus asa tidak rela melihat negerinya berantakan setelah difitnah dan dibuang ke daerah Jiangnan, akhirnya dia mengikat batu ke badannya dan bunuh diri di sungai Milo. Perayaan Peh Cun yang dirayakan orang Tionghoa sampai sekarang adalah satu hari peringatan buat mengenang penyair besar ini.

[4] Du Fu (杜甫), 712-770, penyair zaman Tang. Lahir dalam keluarga cendekiawan tapi gagal dalam ujian kerajaan pada tahun 736, lalu mengembara dan berkenalan dengan berbagai sastrawan sezaman. Ada yang memberi gelar Shishen (诗圣) atau dewa penyair.

[5] Qian Long (乾隆) atau Kian Liong  dalam Hokkian (1711-1799) adalah kaisar ke 5 dari dinasti Qing suku bangsa Manchu dan kaisar keempat yang bertahta dan menguasai Tiongkok dari tahun 1735-1796.

[6] Jiang yiqi (讲义气) maksudnya mementingkan sifat satria dan kewajiban. Suka membela kebenaran dan membantu orang dalam kesulitan.

[7]Song Gaozong (宋高宗) (1127-1162) adalah kaisar dinasti Song yang memindahkan ibukota ke Lin An atau Hangzhou karena serangan suku bangsa Jin.

[8] Yue Fei (岳飞) (1103-1142) adalah seorang patriot dan pemimpin militer nasional di zaman Song. Dia dibunuh setelah difitnah oleh perdana menteri Qin Kuai(秦桧).

[9] Tang Taizong (唐太宗) adalah kaisar kedua dinasti Tang (627-649)

[10] Tiandi Hui (天地会), perkumpulan rahasia di zaman Qing yang ingin membangun kembali dinasti Ming.

[11] Chunqiu (春秋) atau Spring and Autumn period (770476 SM) dan  Zhanguo (战国)atau Warring States period (403-221SM

 

   
       
   
 
   
   
   
       
   
 
   
   

 

   
   
[Home
   
 

Aris Tanone - 2004

   
You are visitor: since May 8, 2004.