|
|
||||
Kumpulan TerjemahanPUISI, CERITERA, DAN ARTIKEL BERBAHASA TIONGHUAAris Tanone |
||||
|
|
||||
|
Terjemahan ini pertama kali juga saya tuliskan
untuk teman-teman di milis Tjersil (tjersil@yahoogroups.com).
Dalam cersilnya
berjudul Xiake Xing (terjemahan bahasa Indonesianya berjudul Medali
Wasiat seperti judul bab pertama), Jin Yong membuka ceriteranya
dengan Balada Satria Pendekar atau Xiake Xing karya penyair Li Bai
(701 - 762M) ini.Di situ Jin Yong hanya
mengatakan bahwa balada ini menuliskan kisah dua pendekar bernama Hou
Ying dan Zhu Hai yang dipakai oleh Pangeran Xin Ling dari negeri Wei.
Setelah turun temurunpun, kalau membaca kembali masih terasa kesatriaan
mereka yang membangkitkan ketakutan musuh. Daliang berdekatan dengan
sungai kuning, dan kemudian dinamai Bianlian, yang tidak lain adalah
kota Kaifeng di propinsi Henan sekarang. Walaupun beberapa kali pernah
menjadi ibu kota, tetapi perangai rakyatnya sangat sederhana, dan sikap
sastria yang diabadikan dalam berbagai kisah sedih masa lalu, tidak
dilupakan oleh generasi kemudian.
Berikut ini
adalah hasil terjemahan saya, yang entah sudah berapa kali saya perbaiki.
Saya pernah melihat terjemahan Robert Payne berjudul The Bravo of Chao
yang merupakan salah satu terjemahan dalam bukunya berjudul 'The
White Pony'. Akan tetapi, saya tidak menyukai terjemahan Inggris yang
kebanyakan kata, padahal sajak aslinya hanya terdiri dari lima
huruf setiap baris.
Kisah Hou Ying
dan Zhu Hai ini bisa ditemukan dalam Shi Ji atau Catatan Sejarah yang
ditulis oleh Shima Qian (145 – 87SM) di
zaman dinasti Han
yang terdiri dari 130 jilid. Berbagai kisah yang diungkapkan di Shiji berawal dari
zaman Huang Di (Yellow Emperor) sampai Han Wudi (156 – 87SM) yang
meliputi kurun waktu sekitar 3000 tahun. Kisah ini telah banyak memberikan
inspirasi untuk penulis di zaman berikut, dan sebelum Jin Yong menggunakan
kata-kata dalam baris-baris ini untuk menamakan jurus silat dalam
cersilnya secara kocak, sudah ada berbagai tulisan termasuk sebuah sajak
Wang Wei (yang hidup sezaman dengan Li Bai), berjudul Yi Men Ge atau
Lagu Gerbang Yi dan dalam sebuah sajak pendek menyimpulkan seluruh kisah.
Selain puisi Wang Wei hasil lukisan Wang Wei juga sangat memukau orang
sezamannya sampai penyair Shu Dongbo sempat bilang, dalam lukisannya ada
syair, dalam syairnya ada lukisan.
Sekedar surfing di Internet, masih bisa kita temukan ungkapan Qie Fu Jiu Zhao yang berarti "mencuri stempel menyelamatkan Zhao". Ungkapan ini adalah salah satu dari berbagai ungkapan yang beredar di sekitar daerah Handan, mantan ibukota negeri Zhao dan sudah banyak dipakai untuk judul sandiwara berbagai zaman. Termasuk di dalamnya, sandiwara karangan Guo Muoruo, seorang sastrawan abad lalu yang dekat dengan Mao Zedong. Ungkapan itu kini dipakai untuk menyatakan bahwa kalau berperang harus memakai akal. Ini berkat kemampuan Hou Ying yang sebenarnya seorang penjaga gerbang, yang mengusulkan kepada Pangeran Xin Ling untuk memakai gundik kakaknya mencuri setempel kerajaan dari sang Raja untuk merampas kekuasaan tentara di perbatasan. Satrategi Hou Ying ini sangat berhasil, karena bersama pangeran Xin Ling ikut pula Zhu Hai, si jagal hewan teman Hou Ying yang menghancurkan batok sang jendral dengan palunya, ketika sang jenderal curiga pada stempel kerajaan, walaupun stempel itu ukurannya pas ketika disambungkan dengan pasangan lainnya yang dipegang sang jenderal. Berkat stempel itu, mereka bisa memperoleh kekuasaan tentara untuk melawan pasukan Qin dan sempat menunda kekalahan sebelum akhirnya semua ditelan oleh Qin yang untuk pertama kalinya mempersatukan negeri Cina. Kecurigaan sang jenderal ini sudah diramalkan Hou Ying, yang tadinya sangat angkuh dan mempermainkan pangeran Xin Ling yang sudah berendah-hati mengundangnya minum. Dipermainkannya sang pangeran, dengan berbagai ulah yang merendahkan sang pangeran. Tetapi pangeran Xin Ling tetap gigih melewati berbagai cobaan Hou Ying tua ini. Untuk menyatakan kesetiaannya sewaktu pangerannya berangkat perang, Hou Ying berjanji akan bunuh diri saat menurut perkiraan dia pangeran dan pasukannya akan mencapai daerah perbatasan. Liku-liku ceritera cukup panjang untuk menjadi satu tulisan sendiri, maka saya akhiri di sini, dan mari kita lihat terjemahan saya. |
||||
Balada Satria PendekarLi Bai.
Satria
Zhao[1]
berpeci asing bertali,
Berpedang
Wukou[2]
sebening salju beku,
Pelana
perak kilapi kuda putih,
Gegas
berkelabat ‘bak bintang melintas.
Sepuluh
langkah bunuh satu orang,
Ribuan
li belum juga terhentikan[3],
Habis
tugas kebaskan baju berdebu,
Bertapa
membenamkan nama dan diri.
Pangeran
Xin Ling[4]
mengajaknya minum,
Pedangpun
dicopot lintangkan di lutut.
Menikmati
dendeng bersama Zhu Hai[5],
Menyuguhi
minuman membujuk Hou Ying.
Tiga
cawan terus ikrarkan sumpah,
Merontokkan
Wuyue[6]
pun terasa ringan,
Kala
arak panasi mata telinga,
semangat
bergolak ‘bak sinar pelangi.
Ayunkan
palu slamatkan negeri Zhao, Baru
namanya sudah getarkan Handan[7]
Abadilah
nama dua satria perkasa, Dalam
lubuk hati penduduk Daliang[8]
Tulang
satria gugur harum semerbak, Tak
malu dianugrahi gelar pahlawan, Timbang
jadi penunggu lemari buku, Sampai ubanan tekuni kitab mistik[9]. [1]
Zhao adalah salah satu dari ketujuh kerajaan di zaman Warring
Kingdoms. [2]
Wukou, sejenis pedang melengkung berbentuk sabit dari negeri Wu. [3] Ungkapan ini dikutip dari percakapan Zhuang Zi dengan Raja Wen mengenai urusan pedang. [4] Wei Wuji (魏无忌) yang lebih dikenal sebagai Xinling Jun (信陵君) atau Pangeran Xin Ling. Nama Wuji atau Boe Kie ini kemudian dipakai Jin Yong untuk tokoh ceritera To Liong To. [5]Zhu Hai dan Hou Ying adalah dua pendekar yang dipakai oleh pangeran Xinling dan akhirnya bisa menyelamatkan negeri Zhao dengan mengusir pasukan Qin. [6] Wuyue, lima gunung yang dianggap suci di Tiongkok termasuk Taishan. [7]Handan, ibu kota negeri Zhao. [8] Daliang, ibu kota negeri Wei. [9] Maksudnya Taixuan Jing (太玄經), karya Yang Xiong di zaman Xihan (Han Barat). Bertumpu pada Xuan atau mysticism, dan dalam berbagai syairnya, Li Bai sering mengejek kitab ini.
|
||||
| 李白-俠客行 | ||||
|
趙客縵胡纓。吳鉤霜雪明。銀鞍照白馬。颯遝如流星。 十步殺一人。千里不留行。事了拂衣去。深藏身與名。 閑過信陵飲。脫劍膝前橫。將炙啖朱亥。持觴勸侯嬴。 三杯吐然諾。五嶽倒為輕。眼花耳熱後。意氣素霓生。 救趙揮金槌。邯鄲先震驚。千秋二壯士。烜赫大樑城。 縱死俠骨香。不慚世上英。誰能書閣下。白首太玄經。 |
||||
|
|
||||
|
|
||||
|
|
||||
|
|
||||
|
[Home]
|
||||
|
© Aris Tanone - 2004 |
||||
|
You are visitor:
|
||||
|
|
||||
|
|
||||
|
|
||||